BALIKPAPAN-Instalasi pipa gas milik PGN kembali membuat warga merugi. Salah satu Uswatun Hasanah, pemilik usaha makanan beku di Jalan Soekarno-Hatta ini mengaku berpotensi rugi hihgga puluhan juta, karena cairan yang digunakan dalam pemasangan pipa masuk hingga ke dalam tokonya pada Kamis (9/3) pekan lalu.
Dari pengamatan media ini, cairan masuk ke dalam toko dari retakan yang ada bawah lantai. Bahkan ubin di toko Uswatun terangkat karena tekanan air bercampur lumpur. Awalnya dia mengira lumpur tersebut merupakan bekas banjir.
Uswatun mengaku jalannya proyek pemasangan pipa membuat dia tak tenang. Pasalnya, dia khawatir kejadian merembesnya cairan bercampur lumpur ke dalam toko yang dia sewa kembali terulang.
"Selama proyek berjalan kan bisa saja kejadian lagi (lumpur masuk toko). Makanya saya tidak tenang sekarang," kata dia.
Bahkan Uswatun berencana pindah toko lantaran takut. Dia mengaku akan berkomunikasi dengan pemilik ruko untuk meminta 50 persen uang sewanya kembali.
"Saya bayar Rp 60 juta untuk sewa satu tahun, ini sudah jalan 5 bulan. Tapi kejadian ini membuat saya ingin pindah saja, saya berencana minta separuh uang sewa kepada pemilik ruko," kata dia.
Pelaksana proyek, sebut Uswatun sudah berjanji bertanggung jawab. Hanya saja dia tak tahu kapan janji tersebut akan terealisasi.
Steven, pemilik usaha lain juga mengaku dirugikan dengan merembesnya cairan pemboran ke dalam tokonya pada Kamis (9/3) lalu. "Saya kaget pas buka toko, lumpur setingga mata kaki sudah memenuhi ruangan," kata dia.
Awalnya Steven tak menduga cairan bercampur lumpur berasal dari proyek instalasi pipa. Sebab, sedari awal proyek berjalan, tak pernah ada sosialiasi soal dampak yang dihasilkan.
"Setelah saya cari tahu ternyata toko sebelah juga mengalami seperti saya. Belakangan kami tahu kejadian ini karena proyek pemasangan pipa," ungkap Steven.
Steven mengaku kecewa kepada pelaksana proyek yang kurang komunikatif terhadap warga. Bahkan, dia harus membersihkan sendiri material lumpur bercampur air yang masuk ke dalam toko.
"Petugasnya saya tunggu tak kunjung datang. Akhirnya saya bersihkan sendiri," kata dia.
Ia berharap ada itikad baik dari kontraktor untuk mengganti kerugian yang dia derita. Pasalnya sejumlah alat elektronik di tokonya kini tak dapat berfungsi normal karena sempat terendam lumpur. Kerugian akibat kejadian ini ditaksir mencapai Rp 10 juta.
"Ini sebagian saya biarkan saja tetap kotor. Sebab biar jadi bukti kalau alat saya rusak setelah terkena lumpur," tegas dia.
Ponimah, pemilik warung kelontong di KM 1 juga mengaku terdampak proyek pemasangan pipa ini. Selain tokonya nyaris kebanjiran cairan pemboran, pintu tokonya juga mengalami kerusakan.
"Kemarin sudah didata oleh RT dan kelurahan bersama pelaksana proyek. Kabarnya mau diganti kerugiannya, tapi tidak tahu kapan," ungkap dia. (hul)
Editor : izak-Indra Zakaria