SANGATTA - Kendati sepi perayaan selama badai Covid 19 menerjang negara tercinta dua tahun lamanya, kini, euforia perlombaan 17 Agustus kembali semarak dilaksanakan di semua penjuru Indonesia. Termasuk juga di Sangatta.
Lomba-lomba yang digelar selama Agustusan bukan hanya sekadar ajang fisik saja, tetapi juga merupakan ekspresi dari semangat patriotisme, kebersamaan, juga semangat juang masyarakat merayakan hari kemerdekaan di umur negara yang sudah tua, yakni 78 tahun terbebas dari penjajah.
Beragam lomba mewarnai keseruan yang mampu membuat warga menjadi lebih kompak. Jika biasanya di komplek perumahan nampak sepi, adanya perlombaan berdampak baik yang mampu mendekatkan kembali hubungan antar tetangga.
Dari banyaknya jenis lomba sejak dahulu kala, salah satu perlombaan yang paling digandrungi dan ditunggu peserta adalah lomba makan kerupuk. Lomba satu ini sangat familiar di kalangan masyarakat. Mulai dari pedesaan bahkan hingga perkotaan.
Seperti diketahui, mekanisme lomba ini sederhana, murah namun menghibur banyak orang. Kerupuknya pun mudah didapat warung-warung.
Setiap peserta dijatah satu kerupuk putih berjaring itu, kemudian kerupuk diikat di tali dan digantung. Setelahnya, peserta diadu dengan memakan kerupuk tanpa memegangnya. Siapa cepat dia jawaranya.
Salah satu pagelaran lomba kerupuk digelar oleh Karang Taruna Tunas Muda RT 04 Dusun Gunung Teknik Desa Sangatta Selatan. Sempat vakum menggelar kegiatan di hari kemerdekaan, kini kelompok pemuda itu kembali menggelorakan semangatnya. Semata mengenang masa perjuangan para pejuang.
Dijelaskan oleh Ketua Karang Taruna Tunas Muda, Fuad Sirinding, dia menyebut kegiatan ini murni dari masyarakat untuk masyarakat.
"Kami mengumpulkan dana dari masyarakat di lingkungan RT 04 dan digunakan untuk mereka juga. Karang Taruna hanya sebagai fasilitator saja," ungkapnya saat diwawancarai pada Kamis, 17 Agustus 2023.
Kata dia, banyak jenis lomba yang diikuti ratusan peserta, baik dari kalangan batita, balita, anak-anak hingga dewasa. Namun, lomba makan kerupuk memang menjadi lomba yang paling digandrungi dari puluhan lomba lain.
Ide lomba ini, jelasnya, diawali dengan melihat kondisi masyarakat Indonesia di zaman penjajahan yang makan serba apa adanya. Kerupuk merupakan makanan yang murah dan mudah didapat oleh masyarakat, namun makanan sederhana ini tidak menyurutkan semangat juang para pejuang di masa penjajahan.
"Zaman belum merdeka, konon katanya masyarakat sangat sulit untuk mendapat makanan yang lezat apa lagi bergizi. Kerupuk saja sudah cukup mengenyangkan. Hal seperti itulah yang kita kenang kembali bagi mereka para pejuang, agar generasi sekarang mestinya lebih bersyukur dengan kondisi yang mudah," harap ia.
Lomba makan kerupuk menjadi salah satu lomba pertama yang diadakan untuk memeringati Hari Kemerdekaan Indonesia kala itu. Hal ini karena kerupuk identik sekali sebagai makanan rakyat jelata di masa perang. Lomba ini diniatkan agar rakyat Indonesia selalu ingat pada masa perjuangan yang susah, yang mengharuskan rakyat hanya makan nasi dan kerupuk saja. Makna ini lah yang harus diingat.
Zaman penjajahan dulu, dijelaskan oleh sejarawan, kerupuk hanya ada dua jenis, yakni kerupuk dari bahan baku ikan dan kerupuk berbahan dasar aci (tepung kanji). Di masa krisis tersebut, pabrik tapioka adalah salah satu industri yang mengalami surplus, karena banyaknya penggunaan tepung dalam memenuhi kebutuhan pangan rakyat Indonesia, termasuk salah satunya untuk pembuatan kerupuk. Pada saat itulah, kerupuk merupakan makanan yang digandrungi bahkan hingga zaman modern kini.
Jadi dengan makan nasi dan kerupuk, tanpa kecap dan garam pun mereka (rakyat jelata di saat perang) sudah bisa bertahan hidup.
Akan tetapi semakin majunya peradaban manusia, jenis makanan pun kian berkembang. Kini, masyarakat dengan bebasnya bisa mengonsumsi apapun, termasuk juga disandingkan dengan kerupuk.(la)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan