Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Berau terus mendorong penerapan penggunaan batik khas Berau di lingkungan sekolah, baik negeri maupun swasta.
Program tersebut sebenarnya telah mulai digagas sejak tahun 2024. Namun, hingga kini pelaksanaannya belum berjalan optimal karena sejumlah kendala, termasuk perubahan regulasi dan keterbatasan dukungan anggaran. Sekretaris Disdik Berau, Ali Syahbana, mengungkapkan bahwa semangat awal untuk mendorong penggunaan batik khas Berau sempat menguat tahun lalu.
Kala itu, Kejaksaan Negeri (Kejari) Berau turut memberikan dorongan kuat terhadap pengaplikasian batik daerah di dunia pendidikan.
"Penggunaan batik khas Berau untuk lingkungan sekolah itu sebenarnya sudah kami mulai sejak 2024. Dukungan dari Kejari Berau sangat besar saat itu. Bahkan kami benar-benar didorong agar bisa menerapkannya secara menyeluruh," ujarnya.
Namun, setelah pejabat Kejari yang mendukung program tersebut dipindah tugaskan, pelaksanaan program mulai mengalami hambatan. Tanpa dukungan yang kuat, semangat pelaksanaan program pun ikut meredup.
"Sejak beliau pindah tugas, kami merasa program ini jadi agak tersendat. Tahun ini juga belum dapat dianggarkan secara khusus," imbuhnya.
Meski demikian, pihaknya tetap mengimbau seluruh sekolah untuk menggunakan batik khas Berau, terutama saat menghadiri kegiatan resmi seperti upacara, rapat, maupun kegiatan formal lainnya.
Imbauan ini ditujukan kepada seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta. Namun untuk sekolah swasta, sifatnya hanya anjuran.
"Kalau sekolah swasta ingin mengikuti, tentu kami sambut baik. Tapi karena mereka berada di bawah yayasan, kami tidak bisa terlalu jauh mengatur. Kalau mereka mau mengacu pada aturan dinas, itu akan lebih baik," jelasnya.
Ali menambahkan, saat ini pihaknya tengah merancang regulasi dalam bentuk Peraturan Bupati (Perbup) untuk memperkuat dasar hukum penggunaan batik daerah di instansi pendidikan.
"Rencana kami, aturan ini akan dituangkan dalam bentuk Perbup, sehingga bisa menjadi acuan resmi bagi seluruh pihak, termasuk guru dan tenaga kependidikan," jelasnya. Ia juga menegaskan bahwa pemanfaatan batik lokal ini bukan hanya sebagai bentuk pelestarian budaya, tetapi juga bagian dari strategi untuk mendukung perekonomian masyarakat, khususnya para pelaku UMKM pengrajin batik Berau.
"Kalau sekolah-sekolah menggunakan batik khas Berau, tentu permintaan terhadap produk lokal meningkat. Ini akan berdampak positif bagi pelaku usaha kecil yang memproduksi kain batik dan baju batik. Jadi, kita tidak lagi bergantung pada batik dari luar daerah," tegas Ali. Ia berharap, ke depan, penggunaan batik khas Berau dapat menjadi identitas kebanggaan daerah yang melekat di dunia pendidikan, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi lokal. (*/aja/hmd)
Editor : Indra Zakaria