PROKAL.CO, TANJUNG REDEB – Lobster dan ikan kerapu menjadi dua komoditas perikanan yang didorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Pengembangan kedua komoditas ini diarahkan melalui peningkatan produksi dan ekspor, dengan tetap memperhatikan penguatan kapasitas nelayan serta pembudidaya. Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, mengatakan potensi pasar luar negeri menjadi peluang yang perlu dimanfaatkan oleh nelayan dan perusahaan pengelola hasil perikanan.
Baca Juga: Sisa Utang Rp 63 Miliar, Pemkab PPU Kejar Pelunasan Pinjaman ke Bankaltimtara Akhir Tahun
“Aktivitas produksi dan ekspor diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi hasil laut sekaligus memberi dampak terhadap perekonomian daerah,” ungkapnya.
Menurutnya, sektor kelautan dan perikanan memiliki peluang untuk berkontribusi lebih besar terhadap pendapatan daerah. Karena itu, aktivitas usaha yang telah berjalan perlu didukung agar mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Apalagi lobster sebagai salah satu komoditas yang potensinya perlu terus dikembangkan. Pemerintah daerah mendorong nelayan dan perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan lobster untuk meningkatkan kegiatan produksi sesuai kemampuan dan potensi yang tersedia.
Selain lobster, ikan kerapu juga menjadi komoditas yang mendapat perhatian. Keduanya dinilai memiliki peran penting bagi mata pencaharian masyarakat pesisir, baik melalui kegiatan penangkapan maupun budidaya.
Pemerintah daerah, lanjutnya, perlu memberikan perhatian kepada pelaku usaha perikanan agar potensi tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dukungan itu tidak hanya menyangkut peningkatan produksi, tetapi juga pengembangan kemampuan nelayan dalam mengelola usaha mereka.
Baca Juga: Komitmen Genjot Ekonomi Warga, Diskominfo PPU Konsisten Wadahi Publikasi UMKM
“Salah satu hal yang ditekankan adalah edukasi dan penerapan teknologi di sektor perikanan,” katanya. Peningkatan pengetahuan serta keterampilan dinilai penting untuk membantu nelayan memperbaiki kualitas dan kuantitas hasil produksi.
Hal itu juga diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha perikanan. Dengan pengelolaan yang lebih baik, tentunya nelayan dan pembudidaya diharapkan mampu mempertahankan kegiatan usaha sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar.
Di sisi lain, peningkatan aktivitas ekspor perlu berjalan seiring dengan upaya memperkuat kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor tersebut.
“Kita akan dorong agar nelayan atau penghasil lobster terus melakukan kegiatan ini untuk mengisi suplai lobster yang ada di pasar internasional,” terangnya.
Pemkab Berau berharap pengembangan lobster dan kerapu dapat memperkuat peluang kontribusi yang lebih besar bagi ekonomi daerah. Pun diarahkan untuk memperluas peluang usaha masyarakat pesisir dan meningkatkan kontribusi sektor perikanan terhadap PAD.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid, menjelaskan bahwa komoditas hasil tangkapan hidup dari perairan Berau telah memiliki pasar di dalam maupun luar negeri. Untuk lobster, pengiriman antarpulau paling banyak ditujukan ke Surabaya.
Baca Juga: Perputaran Ekonomi Naik 13,3 Persen di Berau Expo 2026, Bupati Sri Juniarsih Bilang Begini
Pengiriman lobster hidup tersebut berlangsung rutin dengan jumlah sekitar 15 hingga 20 koli dalam sekali pengiriman.
“Frekuensinya berkisar satu hingga dua minggu sekali, bergantung pada ketersediaan stok,” sebutnya.
Adapun ikan kerapu hidup telah dipasarkan hingga ke luar negeri, dan Hong Kong sebagai salah satu tujuan utama. Adapun pengangkutan komoditas itu juga didukung oleh kapal khusus yang datang langsung untuk menjemput hasil tangkapan di Berau.
Pasar yang telah terbentuk ini menjadi salah satu peluang bagi pengembangan usaha perikanan daerah. Namun, peningkatan produksi tetap perlu memperhatikan ketersediaan stok dan keberlanjutan sumber daya perairan agar kegiatan usaha dapat berlangsung dalam jangka panjang. (adv/far)
Editor : Faroq Zamzami