SURABAYA– Tiongkok masih menjadi tujuan penting ekspor komoditas alas kaki Indonesia. Secara nasional, Negeri Panda itu masih menempati urutan kedua dalam daftar negara-negara tujuan ekspor utama.
Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, tiap tahun ekspor ke Tiongkok meningkat. ”Ke depan, diharapkan terus membesar,’’ ujarnya kemarin (28/1).
Per Oktober lalu, ekspor ke AS berkisar 28,09 persen. Sementara itu, ekspor ke Tiongkok tercatat 16,02 persen. ”Aprisindo melalui Asean China Business Council terus berupaya lakukan lobi dan negosiasi untuk menyamakan persepsi dan sinkronisasi harmonized system number,’’ papar Eddy.
Pria yang juga ketua sektor alas kaki, material, dan permesinan pada China Asean Business Council itu optimistis hambatan-hambatan yang ada akan teratasi lewat sinergi. Dia menyatakan, pertemuan rutin wadah bisnis itu digelar tiap tahun.
Tujuannya, komoditas alas kaki Indonesia dapat lebih cepat diterima pasar Tiongkok. ”Dengan reputasi Tiongkok sebagai penghasil sepatu terbesar di dunia, tentu untuk masuk ke sana sulit,’’ ucapnya.
Namun, setelah beberapa kali pertemuan, Eddy mengaku mulai ada titik temu. Dia mulai melihat celah yang dapat dimasuki. Dengan demikian, penerimaan pasar terhadap sepatu Indonesia kian positif.
”Executive President China Asean Business Council Mr Xu Ning Ning memiliki peran besar dalam mendorong ekspor sepatu ke Tiongkok,’’ ungkap Eddy. Selama ini, Tiongkok mendominasi pasar alas kaki global. Mereka perlu menyeimbangkan perdagangan dengan mendatangkan sepatu dari banyak negara. Termasuk, Indonesia.
Sepanjang 2020 lalu, ekspor alas kaki malah tumbuh. Yakni, masih bisa mencapai USD 4,8 miliar (sekitar Rp 67,60 triliun). Artinya, jika dibandingkan dengan 2019, masih surplus di atas 8,02 persen. (res/c13/hep)
Editor : izak-Indra Zakaria