Tak banyak pelaku usaha budi daya ikan patin secara besar di Kaltim. Banyak faktor. Mulai harga bibit yang mahal hingga masa panen yang terlalu panjang. Pun pasar yang saat ini masih didominasi dari daerah lain.
Manggala Mursalim, pengelola dan pembudi daya ikan patin pemancingan Az Zahra di Balikpapan Utara menyebut, pasar ikan patin di Kaltim sejak awal hingga kini masih dipasok dari Banjarmasin, Kalsel.
“Setiap hari mobil-mobil pikap mengangkut patin dari Kalsel memasok khususnya di Balikpapan dan Samarinda,” ucap Manggala, Jumat (12/3).
Ini disebut Manggala karena Kalsel atau Banjarmasin khususnya, yang dijuluki kota dengan seribu sungai memiliki pasokan air yang melimpah. Hal ini membantu budi daya patin secara besar-besaran. Termasuk dalam hal pembibitan.
“Patin merupakan ikan yang harus dibudi daya di wilayah yang melimpah sumber airnya,” katanya.
Ini yang menyebabkan tak banyak petani di sektor perikanan darat di Kaltim yang mempertimbangkan budi daya patin. Manggala mencontohkan. Seorang petani minimal harus memiliki seperempat hektare tambak dengan kedalaman minimal 1,5 meter untuk menghasilkan 15 ton patin.
“Bibitnya pun mahal. Untuk ukuran setengah kelingking atau sekitar 2 cm, harganya bisa Rp 300. Beda dengan bibit lele. Ukuran yang sama hanya Rp 80,” jelasnya.
Meski harga bibit mahal, tak banyak pula petani yang melakukan usaha pemijahan patin. Sebab, bibit ikan patin disebut paling rentan mati hingga memasuki ukuran jempol tangan orang dewasa. Ini karena patin sangat sensitif terhadap perubahan pH air.
“pH harus dijaga antara 6–8,” ucapnya.
Karena jika pH terlalu rendah, alias asam, akan membunuh telur ikan. Sementara jika pH terlalu tinggi alias basa, ikan dewasa pun akan stres dan tidak mau makan.
“Kadar pH yang rendah juga bisa membuat patin dewasa mudah mati. Jadi, kalau mau dipilih lebih baik basa, daripada asam,” ujarnya.
Namun, dalam banyak kasus di Balikpapan, air di kolam biasanya cenderung lebih mudah asam. Faktor utama adalah kemarau. Mengakibatkan penyusutan volume air di dalam kolam. Petani pun harus segera menambahkan air jika tidak ingin patin mereka mati.
“Terlambat saja membiarkan pH kurang dari 6 maka risikonya besar. Untuk patin dewasa memang tidak akan terlihat hari itu juga. Tapi seminggu kemudian baru mereka mati,” jelasnya,
Untuk mendapatkan bibit, saat ini petani di Kaltim seperti Balikpapan mengandalkan pasokan dari Banjarmasin dan Bogor, Jawa Barat. Sebab, meski ada beberapa petani yang melakukan pemijahan, jumlahnya sedikit.
“Beda sama ikan lele, banyak di sini sentra pemijahannya,” ungkap pria yang pernah menimba ilmu langsung di sentra patin di Bogor itu.
Di sisi lain, pertimbangan utama budi daya patin masih minim adalah masa panen yang cenderung lama. Berbeda dengan lele, yang hanya 2–3 bulan, maka untuk patin memerlukan waktu paling singkat 7 bulan untuk mencapai bobot 0,7-1 kilogram. Kondisi ini tentu tidak menguntungkan bagi petani dengan modal minim. Sebab, selama 7 bulan tersebut, harus memberi makan patin yang disebut Manggala rakus.
“Rasionya 1 banding 1. Artinya 1 ton ikan sama dengan 1 ton pakan. Harga pakannya pun, pellet itu sekarung (berat 30 kilogram) harganya Rp 330 ribu,” ucapnya.
Meski harga jual yang lebih tinggi daripada ikan lele, namun karena masa panen yang lebih lama dan pemberian pakan yang banyak, membuat tak banyak petani yang mengandalkan patin sebagai komoditas utama di tambak darat mereka.
“Ikan lele per kilogram Rp 25 ribu. Ikan patin Rp 28–30 ribu. Di petani harganya pun hampir sama. Makanya petani malas (budi daya patin),” ungkapnya.
Itu yang membuat hingga kini hanya ada tiga lokasi budi daya patin dalam jumlah besar di Balikpapan. Penjualannya melalui pengepul yang datang langsung ke tambak. Kemudian menjualnya ke pasar dan rumah makan di Kota Beriman.
“Di Balikpapan ini, yang rumah makan yang hidangkan patin juga tidak banyak. Paling warung Banjar atau yang menyediakan menu bakar-bakaran,” imbuhnya.
Dia mengaku tidak begitu paham soal kandungan gizi ikan patin. Namun, sejumlah alasan patin tidak banyak digemari karena kandungan lemaknya yang tinggi. Meski bagi sejumlah orang, kandungan lemak ini sangat lezat, bagi yang ingin menjaga kesehatan cenderung menghindari mengonsumsi patin.
“Lemaknya banyak sekali. Bahkan sampai ada yang kena strok gara-gara terlalu banyak konsumsi patin,” ujarnya.
Karena itu dirinya menyarankan, bagi mereka yang memiliki penyakit kolesterol dan hipertensi sebaiknya tidak mengonsumsi patin. Dalam kondisi olahan apapun jika tidak memahami cara mengurangi lemak yang terkandung di dalam ikan yang dalam bahasa perdagangan internasional dikenal sebagai siamese shark tersebut.
“Yang tidak hipertensi pun hati-hati. Kalau terlalu ‘nyaman’ makannya cek saja setelah itu. Pasti tekanan darahnya naik,” ucapnya. (rdh/dwi/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria