Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Meraup Cuan dari Lebaran, Satu Hari Pengantaran 1.000 Alamat, Sering Dijadikan Buah Tangan

Raden Roro Mira Budi Asih • Rabu, 17 April 2024 - 01:55 WIB
KREASI: Sejak 2013, July Wijaya menghadirkan kue kering sebagai salah satu olahan usahanya. Dia menciptakan varian kue kering sendiri, sehingga menjadi karakter khasnya.
KREASI: Sejak 2013, July Wijaya menghadirkan kue kering sebagai salah satu olahan usahanya. Dia menciptakan varian kue kering sendiri, sehingga menjadi karakter khasnya.

Grafik penjualan terus naik setiap tahun. Mulai aneka cake hingga kue kering. Pelanggan loyal tak pernah absen memesan. Tahun ini, menjadi berkah tersendiri dan rezeki yang tak putus untuk disyukuri.

RADEN RORO MIRA, Samarinda

 

MEMUTUSKAN menjual kue kering sudah dilakukan July Wijaya sejak 2013. Kala itu momen Imlek. Termasuk momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) yang juga identik dengan kue kering di meja sebagai suguhan tamu.

“Akhirnya, setiap momen termasuk Natal dan Lebaran juga jual kue kering. Dari awal, aku memang selalu create varian kue kering sendiri. Tidak pernah jual misal kayak sagu keju, lidah kucing. Menurut aku, hari raya itu kan spesial. Jadi, ketika berkunjung ke rumah orang lain, harus ada olahan spesial juga,” beber July.

Dijelaskan July, jika varian kue kering yang tak pernah absen adalah cokelat mete. Paling laris dan banyak penggemarnya. “Sampai pembeliku itu buat istilah, belum Lebaran kalau belum ada cokelat mete ala Vinc Kitchen di rumahnya,” sambungnya lalu terkekeh.

Diakui jika dia memang sengaja menciptakan karakter tersendiri. Agar pembeli ingat dan sudah melekat bahwa produknya beda dari yang lain. Misal nastar yang biasanya selalu jadi olahan legendaris saat Lebaran, July justru mengolahnya bukan dalam bentuk kue kering, melainkan cake.

“Selain Imlek, Natal, dan Lebaran. Kue kering juga keluar saat Iduladha. Jadi, memang bukan olahan setiap hari. Berdasarkan momen. Dari semua, paling ramai tentu momen Lebaran ya,” ungkapnya.

Olahan yang beda itu juga membuat produk July sering dijadikan sebagai buah tangan. Dari situ, dia berpikir bahwa tentu jangan biasa-biasa saja kemasannya. “Selain mewakili Vinc Kitchen, kan juga pasti mewakili Samarinda. Maka packaging itu harus bagus, harus upgrade. Supaya menaikkan nilai kue. Sekitar 2021 beli mesin petcan, jadi supaya bisa tahan lama. Kemasan petcan awet disimpan sampai sekitar 3 bulan meski tanpa pengawet,” jelasnya.

Setiap tahun, dipastikan selalu ada varian kue kering baru. Untuk tahun ini, selain cokelat mete juga ada wisjman cookies, lalu peanut butter, macadamia, dan emping. Nah, emping dan macadamia jadi kue yang juga paling laris.

Emping dengan cita rasa gurih justru hadir dalam bentuk kue kering. Dalam prosesnya, July mengirim langsung emping dari Aceh. Sebab, di sanalah kualitas emping terbaik yang tidak meninggalkan jejak pahit di lidah. Sehingga, cocok dijadikan kue.

Begitu juga macadamia, dinobatkan sebagai kacang termahal di dunia. Itulah yang menjadi daya tarik pembeli. Sepanjang Ramadan dan jelang Lebaran, July sudah mulai pengiriman sejak 29 Maret hingga 9 April.

“Kalau di awal itu pengiriman untuk yang mau dijadikan hampers. Sehari biasanya sekitar 200-300 alamat, dan satu alamat enggak hanya pesan satu stoples saja. Paling luar biasa itu pengiriman hari terakhir 9 April, tembus sampai 998 alamat, hampir seribu. Pengiriman kue kering dan juga cake,” paparnya.

Itu belum termasuk orderan yang diambil sendiri. “Ada yang ke Bontang, Balikpapan. Belum lagi pesanan hampers perusahaan. Alhamdulillah, ada yang sudah langganan selalu pesan di kita sejak 2019, sekali pesan puluhan hampers. Tahun ini paling waw, grafik kenaikan hampir 100 persen dibanding tahun lalu,” sambungnya.

Dijelaskan, jika dia mengutamakan pesanan dari Samarinda. Jika luar kota, dia tidak melayani pengiriman lewat jasa kirim reguler. Lebih baik jika hand carry atau jemput sendiri. Meski kemasan kue keringnya menggunakan petcan, July tak ingin kecewakan pembeli jika bentuk kue hancur dalam proses pengiriman.

“Enggak hanya se-Kaltim, luar pulau juga bahkan mau pesan. Tapi berat hati ditolak. Kalau bicara duit ya siapa yang enggak mau? Tapi, bukan begitu caranya. Pembeli yang terima kue hancur pasti sedih kan. Aku enggak mau. Itu juga jadi salah satu cita-cita, olahan Vinc Kitchen bisa semakin dikenal. Tapi perlahan, pesanan dalam Samarinda saja sudah keteteran. Jadi, pelan-pelan dulu,” pungkasnya. (ndu/k15/bersambung)

Editor : Indra Zakaria
#Bisnis Kaltim