Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Tekanan Harga CPO Mereda

wahyu-Wahyu KP • Selasa, 8 Januari 2019 - 13:52 WIB

SAMARINDA - Harga minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) berbalik menguat pada pekan ini setelah menurun 16 persen sepanjang tahun lalu. Namun, kenaikan ini belum bisa disebut sebagai titik balik pada penguatan harga CPO. Perbaikan ini hanya membuat harga CPO mereda sejenak.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar mengatakan, harga CPO pada pekan awal tahun ini menguat sekitar 2,5 persen. “Tapi hanya bersifat sementara,” katanya, Senin (7/1).

Dia mengungkapkan, tahun lalu, harga CPO terus melemah. Salah satunya karena perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Selain itu, penurunan harga minyak mentah dunia dan kedelai juga turut berdampak pada penurunan harga CPO. Utamanya dikarenakan meningkatnya cadangan pasokan kedelai di berbagai negara tujuan ekspor Kaltim.

Menurutnya, sentimen negatif bagi CPO tersebut masih bakal terbawa ke tahun ini. Tetapi, sentimen negatif tersebut memiliki tekanan yang lebih longgar. Untuk 2019, ada kemungkinan harga CPO tertekan, tetapi ada peluang juga harga kembali menguat tapi terbatas. “Beberapa faktor yang bisa membantu harga CPO menguat antara lain potensi meningkatnya permintaan minyak sawit di dalam negeri,” katanya.

Seperti diketahui, pemerintah terus menggalakkan program mandatori biodiesel atau kebijakan mencampur solar dengan biodiesel 20 persen (B20). Walaupun Kaltim belum ikut memasok B20 dan masih sebatas ekspor CPO, setidaknya kebijakan itu bisa mengerek harga CPO untuk naik. “Tapi harus diingat, sentimen negatif masih membayangi,” tuturnya.

Faktor lain yang bisa mengganjal kenaikan harga CPO pada 2019, yaitu langkah negara kawasan Uni Eropa menolak penggunaan CPO sebagai produk biodiesel. Permintaan bisa melambat yang mengakibatkan harga sulit naik. “Sentimen yang berasal dari eksternal ini akan membuat CPO sulit naik. Tapi, setidaknya tidak akan selemah pada 2018,” terangnya.

Naiknya harga CPO juga didominasi sentimen positif dari India. Pada Senin (31/12), Pemerintah India mengumumkan pemotongan bea impor CPO dari negara-negara di Asia Tenggara yang efektif berlaku mulai 1 Januari 2019. Bea impor minyak sawit mentah turun dari 44 persen ke 40 persen, sedangkan untuk hasil olahan minyak sawit turun dari 54 persen ke 45 persen.

Turunnya nilai bea impor CPO dan olahannya ini mampu mendongkrak harga komoditas ini. Pasalnya, India merupakan negara dengan jumlah impor CPO terbesar di dunia dengan nilai 15,5 ton per tahun. Dengan bea impor yang semakin murah, sudah sewajarnya permintaan akan meningkat.

Namun demikian, traders memprediksi kenaikan harga CPO akibat pemotongan bea impor India tidak akan berlangsung lama, seperti yang dilansir Reuters. Sebab, cadangan CPO di Asia Tenggara masih tinggi.

Sebut saja Malaysia yang mencatatkan peningkatan cadangan minyak kelapa sawit dari Mei 2018 hingga mencapai puncaknya pada November 2018 sebesar 3,01 juta ton. Sama halnya dengan Indonesia yang mencatatkan cadangan akhir minyak kelapa sawit naik sebesar 30,47 secara tahunan (year on year/yoy) ke 4,41 juta ton.

Melambungnya cadangan minyak kelapa sawit kedua negara penghasil terbesar merupakan andil dari meningkatnya produksi. GAPKI melaporkan tingkat produksi minyak kelapa sawit RI meningkat 2,04 persen secara bulanan pada bulan Oktober 2018 ke angka 4,51 juta ton. Capaian itu merupakan yang tertinggi di tahun ini.

Sedangkan, produksi CPO di Malaysia juga bertambah 4 bulan berturut-turut hingga Oktober 2018, menjadi 1,96 juta ton.

Mengutip Reuters, produksi kedelai di India diramal meningkat 20 persen secara tahunan ke angka 10 juta ton pada periode Oktober 2018-Oktober 2019. Selain itu, jumlah lahan di India yang ditanami kedelai juga diekspektasikan meningkat menjadi 11,1 juta hektare pada periode yang sama, dari sebelumnya 10,2 juta hektare.

Minyak kedelai yang merupakan salah satu produk substitusi minyak kelapa sawit memang menjadi ancaman untuk CPO. Meningkatnya cadangan minyak kedelai dapat membuat harga CPO tertekan. (*/ctr/ndu2/k15)

Editor : wahyu-Wahyu KP