Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mengapa PLTU Lati Harus Dibangun?

uki-Berau Post • Jumat, 21 Agustus 2020 - 02:19 WIB
PLTU TELUK: Wabup Agus Tantomo ketika meninjau proses pembangunan PLTU Teluk Bayur, beberapa waktu lalu.
PLTU TELUK: Wabup Agus Tantomo ketika meninjau proses pembangunan PLTU Teluk Bayur, beberapa waktu lalu.

KALAU itu berlangsung sekarang, dipastikan setiap hari ada aksi demo ke kantor bupati dan gedung PLN.

Saat itu, warga memaklumi. Kapasitas pembangkit yang dimiliki PLN masih sangat terbatas. Layanan bergantian, itu menjadi langganan. Bergantian padam, warga setengah ‘maklum’.

Tapi tidak dengan Makmur HAPK sebagai bupati Berau saat itu. Ia meminta, lampu di rumah dinasnya ikut dipadamkan. Biar sama dengan yang dirasakan masyarakat. Ia mau marah. Tapi pada siapa ia bisa lampiaskan marahnya. Memang kemampuan daya yang dimiliki PLN terbatas sekali.

Ia lalu mengumpulkan perusahaan, agar mereka membeli mesin pembangkit. Setidaknya mesin itu, bisa membantu PLN keluar dari masalah yang pelik. Dan berhasil. Sebuah mesin terpasang di pusat pembangkit di Sambaliung. Selesaikah persoalannya? Ternyata belum bisa menjawab inti masalahnya.

Kaltim saat itu memang sedang dilanda krisis energi listrik. Lahirlah ide untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang. Pembangkit berbahan bakar batu bara. Ide itu disampaikan dalam sebuah pertemuan di provinsi. Tak ada yang merespons. Bahkan Kutai Kertanegara, akan memesan beberapa unit mesin dari Rusia.

Keinginan mengatasi persoalan listrik, terus bergejolak. Makmur bertemu Hatta Rajasa, waktu itu sebagai Meristek. Dan langsung melakukan kunjungan ke Tiongkok. Kunjungan singkat di tengah musim dingin. Hanya untuk melihat satu daerah yang mengoperasikan pembangkit bertenaga batu bara. Sepakat.

Dibangunlah PLTU mulut tambang kapasitas 2x7 MW. Batu baranya dari mana? Ada pasokan ‘gratis’ dari PT Berau Coal. Ketika puncak krisis listrik kabupaten/kota di Kaltim, PLTU mulut tambang yang dibangun, selesai dikerjakan. Makmur tersenyum, karena satu-satunya kabupaten di Indonesia yang mampu mengatasi masalah listrik.

Beroperasinya pembangkit 2x7 MW, awalnya diperkirakan bisa terserap dalam 4 tahun ke depan. Di luar prediksi. Karena masih dirasa kurang, akibat tingginya permintaan masyarakat akan energi listrik, dibangun lagi satu unit pembangkit baru. Sehingga keseluruhan energi terpasang sebanyak 3x7 MW.

Hanya dua tahun semua habis terserap.  Beberapa kecamatan, yang krisis listrik memohon pada Pemkab Berau agar bisa diatasi. Makmur temukan jalan keluar, kelebihan penggunaan listrik atau excess power di pabrik kelapa sawit yang bisa dimanfaatkan. Pabrik Crude Palm Oil (CPO) PT Tanjung Buyu Perkasa di Talisayan, dikerjasamakan dengan PLN untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Satunya lagi di Segah, memanfaatkan excess power milik perkebunan PT Hutan Hijau Mas. Masyarakat pun, bisa menikmatinya.

Untuk daerah lainnya yang tak ada pabrik CPO, tapi punya sumber air yang deras. Dibuatkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro, baik yang ada di Batu Putih dan beberapa lokasi lainnya di pesisir dan pedalaman. Sedangkan di luar itu, ada dukungan pihak investor membangunkan listrik komunal bertenaga surya.

Hadirnya layanan listrik di beberapa wilayah, otomatis mampu menggerakkan roda perekonomian. Sebab, listrik salah satu ukuran bagi investor untuk datang menanamkan modalnya. Karena listrik, industri kecil dan industri rumahan bisa bergerak walaupun berada di ujung kampung.

Itu alasannya, mengapa PLTU Lati dan sejumlah pembangkit harus dihadirkan. (*/adv/udi)

Editor : uki-Berau Post
#Advertorial