PERTUMBUHAN ekonomi terus membaik. Perlahan tapi pasti. Terpuruk saat pandemi mulai mewabah di Indonesia, berbagai upaya perbaikan terus dilakukan. Pelaku usaha khususnya, menerapkan mode bertahan. Efisiensi karyawan hingga pemangkasan gaji.
Berdasarkan hasil diskusi berbagai pihak, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Tutuk SH Cahyono mengatakan jika sektor bisnis saat ini dipetakan berdasarkan risiko penularan dan dampak ekonominya.
“Harus sejalan antara kesehatan dan ekonomi. Yang paling bagus tentu sektor bisnis yang minim risiko penularan Covid-19 dengan dampak ekonomi tinggi,” ujarnya. Sektor ekonomi prioritas berdasarkan peta tersebut digencarkan.
Hasil peta tersebut berdasarkan aspek tenaga kerja, proporsi produk domestik regional bruto (PDRB) sektoral, hingga keterikatan antar sektor. Di Kaltim, sektor pertanian dan perikanan memiliki risiko penularan rendah dengan dampak ekonomi medium.
Begitu pula sektor pertambangan, industri pengolahan dan konstruksi. Masuk dalam kategori risiko penularan virus medium dengan dampak ekonomi tinggi. Batubara masih jadi sektor andalan Kaltim meski pandemi.
Itu dilihat dari segi ekonomi makro, pada segmen mikro, Yusuf Hadi Muslim memberi pandangannya. Pengusaha yang bergelut di dunia bisnis sejak 2007 ini punya basis usaha di Jakarta, Bandung dan Samarinda.
“Sama seperti 2020, pada tahun ini masih mode bertahan. Enggak buru-buru keluarkan uang karena berisiko besar. Masih ada ketidakpastian dari pandemi,” ujar pria yang karib disapa Iyus itu.
Melihat keadaan dan ketidakpastian, Iyus mulai memahami jika komoditas atau kebutuhan utama adalah hal pasti. Sehingga tentu ada peluang usaha besar di sana jika pandai menangkap. Termasuk kesehatan yang saat ini jadi hal yang banyak diperhitungkan. Seperti masker yang saat ini sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat.
“Sebenarnya ini momentum bagus untuk usaha mikro kecil menengah (UMKM). Kenapa? Karena saya lihat ada penurunan atau pergeseran market. Mereka yang menengah ke atas, sekarang di kelas menengah, begitu juga yang menengah jadi turun,” bebernya.
Dampak ekonomi memengaruhi keputusan untuk berbelanja. Sederhananya Iyus menyebut seperti orang yang biasanya memperhitungkan barang bermerk terkait gengsi, kini tak terlalu memusingkannya.
Market paling besar, disebutkan Iyus ada di kelas mikro. Perilaku konsumen berubah, adaptasi dari kondisi pandemi. Bagi konsumen, jelas terlihat dari pola perilaku yang memanfaatkan teknologi. Serba online.
Nah masalahnya, pelaku usaha tidak bisa serta merta migrasi dari offline ke online. “Ngomongin online itu ada infrastrukturnya juga. Butuh tim, butuh kemampuan membaca dan mengolah data,” ungkap pria kelahiran 1989 itu.
Sebab strategi pemasaran digital tidak sekadar unggah produk di sosial media. Tapi ada proses yang tidak instan. “Bisa enggak mengolah dan baca data? Butuh waktu. Untuk pengusaha pemula belum ideal, sebab dasar online itu harus memahami dulu bagaimana offline-nya,” papar Iyus.
Perlu dipahami jika ada proses distribusi yang mesti diketahui. Bagaimana jalur distribusi ketika menerapkan sistem online. Sebab momentum pemasaran digital adalah saat ini. Diharapkan bisa benar-benar memahami dan tahu bagaimana seluk-beluknya. Apalagi jika bicara untuk umur bisnis jangka panjang.
Banyak target pasar baru saat ini. Seperti masyarakat yang mulai peduli dengan kesehatan. Dan kebutuhan dasar atau kebutuhan sehari-hari akan selalu dicari. “Sekarang banyak bank-bank yang mengutamakan pinjaman bagi pelaku usaha yang bergerak di kebutuhan rumah tangga, misal kayak buka air isi ulang,” beber Iyus.
“Kalau bank bisa membaca, itu berarti mereka punya riset professional terkait itu kan. Bahwa usaha konvensional kayak rumah makan, air isi ulang dan lain-lain itu diutamakan untuk pinjaman. Sebab perputaran uangnya cepat di situ,” lanjut dia.
JANGAN IKUT TREN
Menengok tahun lalu, banyak ditemui berbagai coffee shop tumbuh menjamur. Semacam bisnis latah yang kemudian dianggap memiliki peluang bagus. Iyus justru tidak menyarankan mengikuti tren bisnis melihat kondisi ekonomi yang belum pasti saat ini.
“Kecuali kalau sudah punya bisnis dasar yang bisa menunjang kebutuhan dasar juga. Bolehlah coba ikut tren bisnis,” ungkapnya. Penting untuk memetakan peluang dan profit dari bisnis yang sedang dan hendak dijalani.
Jika mengikuti tren, butuh adaptasi bagi masyarakat untuk mengenali produk yang dijual. Dan tentu butuh waktu untuk membeli. Termasuk siap menghadapi saat pola perilaku konsumen yang mudah bosan.
Iyus mencontohkan misal menimbang ingin menjual masker atau membuka depo air isi ulang. Dikenali dengan baik bagaimana permodalan dan sistem penjualannya. Misal fokusnya adalah ingin cepat mendapat keuntungan, maka lihat mana yang modalnya sedikit namun cashflow cepat.
Dia juga melihat jika saat ini outlet fashion seperti di mal mulai sepi. Memang ada pergeseran pola pembelian dari konvensional ke digital. Saat ini orang mulai mempertimbangkan kemampuan beli. Menyesuaikan isi dompet di tengah kelesuan ekonomi imbas pandemi. Oleh sebab itu, ini adalah peluang bagus bagi pelaku usaha mikro atau UMKM.
Berbekal melihat kebutuhan selama pandemi, Iyus juga mulai mengembangkan usahanya di bidang pertanian dan perikanan. Sejak beberapa bulan terakhir, dia melirik bisnis hidropnik.
“Saya kaget dengan permintaan banyak dan ternyata tidak terpenuhi di Samarinda. Saya pun enggak sanggup memenuhi. Pelaku pertanian dan perkebunan itu ada, tapi yang menguasai distribusi itu enggak banyak. Polanya itu ternyata dibeli tengkulak,” kata Iyus.
Potensi usaha hidroponik berusaha dia gencarkan. Termasuk ketika dia mempekerjakan dua tenaga pemasaran. Bergerilya menawarkan hasil kebunnya. “Ketika coba ke retail besar, saya enggak bisa sanggupin. Banyak permintaannya. Dan menariknya, ketika saya masuk ke segmen usaha pinggir jalan atau street food itu pembayarannya langsung,” sambungnya.
Termasuk ini sedang mengembangkan budidaya lele dan nila. Masih proses dan Iyus belum bisa memastikan bagaimana. Namun yang pasti, peluang itu dia ambil saat melihat banyaknya ibu-ibu yang antri berkerumun di lapak ikan setiap pagi. “Nah itu celah lagi, kalau anak muda bisa lihat peluangnya. Dibikinkan versi mudahnya seperti sistem online gitu kan, bisa,” sebutnya.
Beberapa usaha kuliner yang Iyus jalani, dia menyebut jika memang hingga saat ini belum kembali normal. Justru unit usahanya yang menyasar segmen mikro menunjukkan kenaikan 70 persen. “Belum 100 persen kayak normal, tapi lumayan. Beda dengan unit usaha yang kafe, tempatnya lebih besar, karyawan banyak, omzetnya jauh dengan yang pinggiran. Hanya 40-50 persen naiknya,” jelasnya.
Dari situ, Iyus menyimpulkan jika usaha pinggiran apalagi kuliner memang menjanjikan. Apalagi di tengah pandemi khususnya bagi mereka yang memang ingin cepat mendapat untung dari perputaran uang yang cepat. Iyus menilai sebaiknya jangan memulai usaha dari tren atau gengsi untuk saat ini. (rdm)
Editor : izak-Indra Zakaria