Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Dorong APHI Terlibat di KEK Maloy

izak-Indra Zakaria • Kamis, 18 Februari 2021 - 20:00 WIB
Photo
Photo

Pemerintah pusat mendorong Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) ikut terlibat dalam pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Maloy Batuta Trans Kalimantan (KEK MBTK). Sebab salah satu bidang usaha yang jadi kegiatan utama di sana adalah industri pengolahan kayu, di samping industri pengolahan kelapa sawit, energi dan logistik.

 

BALIKPAPAN- Pelibatan APHI juga selaras dengan semangat pembangunan KEK MBTK yang diharapkan mampu menjadi kawasan industri masa depan yang menghasilkan produk-produk bernilai tambah, sehingga bukan hanya mengekspor raw material atau bahan baku. Mereka diharapkan dapat membantu hilirisasi industri perkayuan yang modern dan produktif.

Sebagai informasi, KEK MBTK ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 2014. Luas lahan tersedia/HPL 509,4 hektare dengan rencana investasi pembangunan kawasan mencapai Rp 2,65 triliun. Jika kelak beroperasi dengan baik, KEK MBTK berpotensi besar menyerap tenaga kerja hingga 55.700 orang.

Gubernur Kaltim sebelumnya Menteri Siti Nurbaya telah menyarankan pelibatan APHI untuk berinvestasi di KEK MBTK. Salah satu alasannya potensi besar yang dimiliki Kaltim, baik dari sisi sumber daya alam tak terbarukan (unrenewable resources) dan sumber daya alam terbarukan (renewable resources), seperti hasil kehutanan dan perkebunan.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Kaltim Yadi Robyan Noor mengatakan, di masa depan keberadaan KEK MBTK akan sangat potensial. “Selain menjadi kawasan ekonomi yang akan mengolah berbagai produk turunan bernilai tambah, seperti industri pengolahan minyak sawit, pengolahan kayu, refinery dan logistik, pelabuhan berskala internasional yang disiapkan juga akan mendorong peningkatan ekspor Kaltim,” katanya, (16/2).

Ia menuturkan, pelabuhan KEK Maloy akan menjadi penyangga utama arus distribusi dari produk industri perusahaan yang bakal masuk ke kawasan tersebut. Apalagi di Kutim sendiri sudah banyak pabrik pengolahan CPO dan batu bara. Maka, pengolahan produk turunannya bisa memanfaatkan KEK MBTK.

Memanfaatkan jalur ALKI II akan meningkatkan daya saing produk, karena menekan biaya logistik. Dari pelabuhan Maloy langsung masuk ke jalur ekspor ke wilayah Asia Timur seperti Tiongkok, Korea, Filipina, Jepang dan lainnya. "Selain itu, menghemat waktu tempuh ke negara tujuan ekspor bila dibandingkan ekspor melalui Surabaya atau Jakarta," kata Roby.

Mantan Kepala Biro Humas Setda Provinsi Kaltim itu juga menguraikan potensi investasi di KEK MBTK mencapai Rp 37,71 triliun. Prediksi selanjutnya, pada tahun 2025 KEK MBTK akan mampu menyumbangkan produk domestik regional bruto (PDRB) bagi Kutai Timur hingga Rp 4,67 triliun.

Khusus hasil kelapa sawit, Kutim sendiri menghasilkan tidak kurang dari 7 juta ton TBS per tahun atau setara dengan 2 juta ton CPO. Sedangkan produksi TBS keseluruhan Kaltim sebanyak 18 juta ton. Dengan naiknya kembali harga CPO maka ke depan diharapkan keberadaan KEK MBTK juga akan mendongkrak peningkatan ekspor Kaltim.

Roby menjelaskan, minyak goreng sawit (RBD palm olein) dan minyak fraksi (RBD palm stearin) merupakan minyak turunan kelapa sawit yang paling banyak diekspor ke Tiongkok dan Filipina. Sedangkan produk palm kernel expeller (PKE) dan cangkang kelapa sawit diminati Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Thailand, dan Malaysia. (aji/ndu/k15)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Ekonomi Kaltim