JAKARTA –Kondisi ekonomi Indonesia diprediksi bakal lebih baik pada tahun depan. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi pada 2023 berada pada rentang 5,3 hingga 5,9 persen. Tahun ini diproyeksi berkisar 4,8 hingga 5,5 persen.
Asumsi tahun depan dipengaruhi adanya faktor positif dan downside risk atau risiko ke bawah.‘’Yang positif adalah kenaikan harga komoditas di satu sisi menimbulkan penerimaan negara dan juga mendorong investasi di Indonesia, seperti yang terjadi di 2011 hingga 2012. Namun, kenaikan itu menimbulkan tekanan inflasi yang harus diwaspadai,’’ papar Menkeu dalam doorstop usai Rapat Paripurna DPR RI ke-24 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2021-2022, Selasa (31/05).
Oleh karena itu, Menkeu memastikan APBN akan tetap menjalankan fungsinya. Yakni, menjadi shock absorber untuk menjaga masyarakat dari penurunan kesejahteraan akibat kehilangan pekerjaan, melindungi dan memulihkan dunia bisnis, terutama usaha kecil menengah, serta melindungi dan menjaga stabilitas sistem keuangan.
Lebih lanjut, Ani sapaanya, menjelaskan postur APBN 2023 tidak bisa terlepas dari asumsi-asumsi yang mendasarinya. Munculnya pandemi sangat memengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi. Inflasi, nilai tukar, harga minyak, dan kenaikan suku bunga juga harus tetap diwaspadai.
Di sisi lain, perubahan geopolitik dengan terjadinya perang di Ukraina dan hubungan eskalasi yang meningkat antara Blok Barat dengan Rusia atau dengan Tiongkok menjadi faktor ketidakpastian baru pada tahun depan.
Mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu menilai ketidakpastian dan pelemahan ekonomi global, seperti terjadinya potensi resesi atau stagflasi, dan juga dari sisi eskalasi geopolitik harus masuk di dalam perhitungan, baik Pemerintah maupun DPR.
‘’Dengan kombinasi itu, kita tetap percaya bahwa kemampuan kita untuk mengelola risiko di tahun 2023 tetap akan kita jaga dan rentang pertumbuhannya tetap bisa terlihat pada tadi 5,3 hingga 5,9 persen,’’ ujar Menkeu. Sejalan dengan itu, inflasi diproyeksi ada pada 2 hingga 4 persen pada 2023. Hal itu didasarkan pada pertimbangan inflasi global yang sangat tinggi.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menambahkan, pada tahun ini, inflasi diproyeksi bisa di atas 4 persen. ‘’Jadi, memang kecenderungan inflasi akan meningkat. Untuk perkiraan kami, ke depan, di akhir tahun ini kemungkinan inflasi sedikit diatas sasaran, yaitu 4,2 persen (YoY),’’ jelasnya kemarin.
Perry menyebutkan, kenaikan inflasi itu sebagai imbas dari konflik Rusia-Ukraina yang turut menekan harga komoditas, sehingga menyebabkan harga pangan dan energi meningkat.(dee/dio)
Asumsi makro Rancangan APBN 2023
-Pertumbuhan ekonomi: 5,3-5,9 persen
-Inflasi: 3 plus minus 1 persen atau rentang 2-4 persen
-Nilai tukar: Rp 14.300 - Rp 14.800 per dolar AS
-Suku bunga SUN 10 tahun: 7,34 - 9,16 persen
-Harga minyak mentah Indonesia: USD 80 - USD 100 per barel
- Lifting minyak bumi: 619 ribu - 680 ribu barel per hari
- Lifting gas: 1,02 juta hingga 1,11 juta barel setara minyak per hari
Sumber: RAPBN 2023
Editor : izak-Indra Zakaria