Suyano, warga Kampung Sambakungan, hidup berdampingan dengan aktivitas pertambangan yang dijalankan PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA). Meskipun berdomisili di sekitar perusahaan tambang batu bara, Suyano tetap bertahan hidup sebagai seorang petani. Bahkan kini telah sukses mengembangkan pertaniannya.
LAHAN tidur, disulap menjadi lahan produktif oleh tangan dingin Suyano. Sosoknya sederhana. Saat baru tiba di Berau, dia belum memiliki rumah. Mengontrak di salah satu rumah warga.
Melihat potensi lahan tidur cukup banyak di Kampung Sambakungan, Suyono yang akrab disapa Mbah No, tergerak mengajak beberapa warga untuk turun menggarap lahan dengan menanam cabai.
Sabtu (1/10) lalu, Berau Post berkunjung ke rumah Mbah No di Sambakungan. Di tengah guyuran hujan lebat, tubuh tetap terasa hangat setelah menikmati suguhan kopi panas buatan istri Mbah No.
Sambil menyeruput kopi, Mbah No bercerita mengapa dirinya tertarik untuk terus mengembangkan pertanian. Karena melihat potensi hortikultura seperti cabai, bisa dikembangkan dan membangkitkan ekonomi masyarakat. Ia juga mengaku bahwa tidak ingin sukses sendirian. Beberapa tetangga dan warga yang ingin belajar, dipersilakannya bertandang ke rumah atau kebunnya.
“Saya belajar di Jogjakarta kemarin, kemudian mencoba di Kalimantan Selatan, dan akhirnya mendarat di Berau,” ucapnya.
Memang setiap rencana terkadang tidak sesuai dengan harapan. Kontur tanah di Berau jauh berbeda dengan di Jawa. Cuaca yang tidak menentu juga menjadi kendala yang harus dihadapi Mbah No. Ia mengatakan, kontur tanah di Berau lebih padat dan harus dilakukan angin-angin terlebih dahulu sebelum dilakukan penanaman.
Dengan rokok kretek terselip di jarinya, Mbah No menjelaskan teknik menanam yang dilakukannya. Awalnya, tanah harus digemburkan terlebih dahulu, dibiarkan selama 15 hingga 20 hari, agar kuman tanah mati. Dan saat mulai muncul bibit rumput, menandakan tanah mulai subur. Di saat seperti itulah tanah sudah siap untuk ditanamin tumbuhan, baik jagung, padi, maupun cabai.
“Mengapa cabai? Karena cabai ini harganya cukup tinggi untuk di Berau, perawatannya agak susah-susah gampang,” tuturnya.
Pria kelahiran, Purbalingga tahun 1973 silam tersebut, mengakui upaya yang dilakukannya tidak selalu mulus. Banyak tantangan, bahkan kegagalan panen pernah dia dan rekannya rasakan. Karena belum terlalu memahami kontur tanah di Berau.
Namun kegagalan bukan hal yang menjadikan ayah empat anak ini menyerah. Malah semakin memotivasi dirinya untuk terus bangkit. Terus mengembangkan dan meneliti tanah yang akan dijadikan lahan pertanian. “Gagal panen ya pasti, tapikan kita tidak boleh menyerah,” ucapnya.
Beberapa tahun kemudian, Mbah No mulai dilirik oleh BUMA. Tak tanggung-tanggung, demi memuluskan niat Mbah No bisa sukses di bidang pertanian, BUMA menggelontorkan puluhan juta rupiah melalui pemberian pelatihan hingga pengadaan alat mesin pertanian (alsintan). Mbah No pun berkesempatan untuk sekolah lapangan. Ya, hal ini semakin menambah kepercayaan diri Mbah No. Tapi Mbah No tidak sendiri, ia bersama 25 orang rekannya, diberangkatkan BUMA untuk belajar bersama di Universitas Brawijaya (UB) Malang. Di tempat tersebut, Mbah No mengatakan, mendapat ilmu, mulai dari olah tanah, irigasi, pembibitan, perawatan tanaman, hingga pengolahan hasil panen. Ia melanjutkan, usai menimba ilmu di UB, BUMA kembali menggelar sekolah lapangan (SL) yang dimulai sejak Oktober 2021 hingga April 2022. Dan dari SL tersebut, panen yang dihasilkan mencapai 60 persen.
“Meskipun tidak seluruhnya berhasil, tapi SL ini tetap memberikan dampak dan semangat kepada para petani dalam budidaya cabai,” katanya.
Mbah No melanjutkan, manfaat dari SL, tidak hanya memberikan semangat dan tambahan pelajaran bagi para petani, melainkan juga menambah wawasan. Tidak hanya tentang cabai, namun tanaman holtikultura lainnya, seperti jagung, dan sayur mayur. Bahkan yang awalnya hanya 25 orang, kini sudah ada 60 orang yang bergabung dan memanfaatkan lahan tidur menjadi lahan produktif.
Pasangan dari Suyatmi ini mengatakan, dia tidak memandang petani tersebut dari kelompok mana pun, yang penting jika ingin belajar, dia mempersilakan. Dirinya hanya meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan nomor handphone bagi warga yang ingin belajar. Dengan tujuan, mudah untuk dihubungi.
Mbah No mengatakan, peran BUMA sangat besar dalam kemajuan pertanian di Kampung Sambakungan. Tidak hanya memberikan motivasi, namun juga dukungan yang sangat besar. Kesuksesan Mbah No dan rekan-rekannya jelas terlihat, mulai dari tidak memiliki rumah, hingga kini memiliki rumah nyaman sebagai tempat berlindung bersama keluarganya. Bahkan rata-rata juga memiliki aset kendaraan roda dua, dan kepemilikan lahan yang dibeli dari hasil keringatnya sendiri. Diakui Mbah No, dengan adanya program ini, regenerasi petani juga terlaksana di Kampung Sambakungan.
“Itu niat saya, Sambakungan ini dikenal dengan nama Kampung Cabai,” katanya tertawa.
Sementara itu, Business Support Manager BUMA, SG Rajagukguk, mengatakan BUMA bekerja sama dengan UB untuk mengembangkan pertanian berkelanjutan di Kampung Sambakungan. Komoditas utama yang dikembangkan adalah cabai, serta komoditas lainnya, agar terus berkelanjutan. Dan kegiatan ini, dilaksanakan dalam bentuk SL selama satu tahun, sehingga penguatan kelembagaan bisa berlangsung.
“Ada 15 demplot yang dikembangkan dari 10 kelompok tani, dan diikuti oleh 25 orang sebagai perwakilan,” katanya.
Dia berharap, dengan adanya program ini, dapat mendorong sektor pertanian di Sambakungan semakin maju agar masyarakat dapat tetap stabil perekonomiannya, meskipun sektor pertambangan nanti berakhir.
“Kemandirian ekonomi perlu dilaksanakan mulai saat ini,” tutupnya. (***/hmd/udi)
Editor : uki-Berau Post