Kinerja pasar modal di Kaltim sangat menggembirakan. Per Desember 2022, nilai kepemilikan sahamnya tercatat sebesar Rp 8,17 triliun atau berhasil tumbuh 170 persen (year on year/yoy).
SAMARINDA - Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kaltim Made Yoga Sudharma mengatakan, kinerja apik ini ditopang oleh pertumbuhan jumlah identitas investor berupa (single investor identification/SID) untuk instrumen pasar modal sebesar 39,48 persen. Saat ini, jumlah SID mencapai 176.973.
Sayangnya, jumlah transaksi saham di Kaltim mengalami perlambatan. Nilai transaksi saham di Bumi Etam hingga pengujung 2022 hanya sebesar Rp 1,08 triliun atau melambat 37,83 persen. “Transaksi saham memang mengalami perlambatan. Namun secara tahunan, dibandingkan sebelum pandemi, tetap mengalami peningkatan yang baik,” tuturnya, Rabu (8/3).
Sementara di Kalimantan, Yoga mengungkapkan per Desember 2022, nilai kepemilikan sahamnya tumbuh 313,09 persen dibandingkan posisi tahun sebelumnya, yaitu menjadi sebesar Rp 90,34 triliun. Sejalan dengan hal itu, jumlah investor juga meningkat sebesar 40,08 persen yoy atau terdapat 160.264 investor baru dibandingkan 2021.
Investasi di pasar modal dinilai sebagai salah satu alternatif bagi anak bangsa untuk turut memberi andil dalam membangkitkan perekonomian. Oleh karena itu, diperlukan landasan pengetahuan yang memadai untuk memulai investasi dengan aman dan perhitungan matang. Jangan lagi ada yang terjerat investasi bodong karena kurangnya pemahaman dan ketiadaan proses analisis 2L (legal dan logis) sebelum memulai berinvestasi.
Terpisah, Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kaltim Dinda Ayu Amalliya mengatakan, jumlah SID meningkat, namun pertumbuhan transaksinya tumbuh lebih lambat merupakan hal wajar. Sebab, tipikal investor di Kaltim itu kebanyakan investor jangka panjang.
Sedangkan daerah lain yang nilai transaksinya tinggi, karena dihitung dari banyaknya jual dan beli saham. Di Kaltim kebanyakan hanya beli lalu disimpan. “Wajar jika nilai transaksi di Kaltim rendah, namun jumlah SID terus meningkat menandakan kebanyakan investor Kaltim merupakan investor jangka panjang,” tuturnya.
Dia menjelaskan, berbagai daerah memang memiliki tipikal investor yang berbeda, ada yang trading atau yang rutin jual beli, ada juga yang jangka panjang. Saat ini, minat investasi di Kaltim semakin tinggi, terlihat dari tumbuhnya galeri investasi di daerah ini. Kesadaran masyarakat Kaltim untuk investasi sudah tumbuh sejak lama, namun tempatnya di mana mungkin itu yang perlu kembali diarahkan.
Dengan banyaknya galeri investasi, masifnya sosialisasi bersama OJK Kaltim tentunya ini menciptakan minat masyarakat untuk investasi. Khususnya saat pandemi Covid-19 kemarin, karena kebanyakan menghabiskan waktu di rumah akhirnya mencari cara bagaimana di rumah saja tapi tetap mendapatkan penghasilan. “Saat pandemi, jumlah investor semakin banyak, ini terus berlanjut hingga sekarang,” pungkasnya. (ndu/k15)
Catur Maiyulinda
@caturmaiyulinda
Editor : izak-Indra Zakaria