Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Meraup Cuan dari Lebaran, Andalkan Teknologi, Bisa Produksi Ribuan Stoples Kue

Raden Roro Mira Budi Asih • 2024-04-18 09:30:00

BANYAK DIMINATI: Khamilatu Sadiah menunjukkan produk kue di Sari Madu Bakery.
BANYAK DIMINATI: Khamilatu Sadiah menunjukkan produk kue di Sari Madu Bakery.
  

Tidak hanya momen Lebaran, setiap harinya, Sari Madu Bakery juga menjajakan aneka kue kering. Permintaan dari konsumen terus naik.

 

RADEN RORO MIRA, Samarinda

 

SEBELUM puasa, Khamilatu Sadiah atau yang akrab disapa Diah itu sudah memesan mesin untuk membantu produksi kue kering. Sebanyak 19 mesin khusus dibeli oleh owner Sari Madu Bakery itu. Mulai mesin khusus pengupas, penghancur hingga mengolah nanas menjadi selai untuk nastar. Lalu mencampur terigu, mencetak, lalu memanggang.

“Dari awal memang komitmen kami dalam produk juga mesti higienis. Enak saja enggak cukup. Kenapa pakai teknologi, supaya mengurangi tersentuh tangan langsung. Rata-rata kalau sudah produksi massal, sulit menjaga kebersihan. Kenapa saya bilang begitu? Karena saya pernah melewati masa itu,” paparnya.

Dijelaskan jika saat produksi manual khusus pesanan Lebaran, bisa melibatkan hingga 100 tenaga freelance. “Bayangkan di dapur produksi ada 100 orang, belum kondisi panas karena ada oven. Tidak dimungkiri itu menguras tenaga, pasti berkeringat. Jadi coba meminimalisasi itu,” lanjut Diah.

Meski begitu, Diah mengakui bahwa produksi kue kering di tempatnya bukan berarti tanpa sentuhan tangan sama sekali. “Masih kalah di pengemasan. Menyusun kue kering di stoples itu mau enggak mau masih pakai sarung tangan. Belum 100 persen, tapi sudah mengarah ke sana,” bebernya ditemui di tempat usahanya di Jalan Abul Hasan, Samarinda.

Ada tujuh jenis kue kering yang diproduksi, dengan harga promo Rp 120 ribu per stoples. Permintaan terus naik bahkan hingga dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Meski sudah menggunakan mesin, diakui jika masih belum bisa memenuhi seluruh pesanan.

“Justru malah enggak ngejar dengan keperluan. Sampai hari ini masih produksi terus. Setelah Lebaran orang-orang masih pada cari, jadi sudah pesan tapi habis dimakan tamu, pengin untuk konsumsi sendiri. Pokoknya tahun ini meledak. Kalah ritme mesin dengan antusias pembeli. Baru keluar, langsung ludes,” ungkapnya, Selasa (16/4).

Dalam sehari, mesin secara optimal mampu bekerja hingga lima jam. Sedikitnya lima ribu stoples diproduksi. Diah menyebut jika mereka masih adaptasi penggunaan mesin. Belum lagi kejar-kejaran dengan pembeli yang terus mencari. Di sisi lain, mesin baru tiba di Samarinda pertengahan Ramadan.

Permintaan tinggi tidak hanya datang dari pembeli satuan, namun juga dari perusahaan untuk hampers. Diah menyediakan lima ribu boks hampers dengan isi empat stoples di dalamnya. Hampir ludes terjual. Sekarang, hanya tersisa beberapa ratus boks.

“Ada perusahaan pesan hampers bisa sampai 120-an boks. Belum lagi yang customer kami dari luar kota. Bahkan sampai Medan pengiriman. Kalau Balikpapan, Bontang, dan Sangatta itu sudah biasa. Jadi ya rebutan stoknya. Netizen itu sampai julid, mereka bilang kami sudah pakai mesin tapi kok tetap enggak kebagian. Pokoknya luar biasa lah tahun ini, alhamdulillah,” jelasnya.

Mendekati Lebaran, permintaan kue kering semakin membludak. H-10 Idulfitri mencatatkan 700-800 transaksi di kasir. Belum termasuk pesanan yang dikirimkan. Diah mengatakan jika H-1 tepatnya 9 April lalu, dalam sehari setidaknya lebih dari seribu transaksi.

“Kurir itu ada 300-an sudah overload. Jadi kami minta customer yang kirim kurir sendiri saking ramainya. Alhamdulillah pokoknya. Ada yang beli kue kering doang transaksinya bisa Rp 6 juta sendiri. Belum belanja kue-kue kami yang lain,” lanjutnya.

Antusias kue kering dijelaskan sudah sejak jauh hari sebelum Ramadan. Aneka kue kering selalu tersedia di tokonya. Tahun ini, khusus kue kering mengalami lonjakan signifikan. “Selama Sari Madu beroperasi, tahun ini yang paling pecah untuk kue kering. Sebenarnya apapun produk kita yang jika diproduksi dalam skala besar, itu pasti cepat laku. Dan tahun ini, kue kering yang bisa di kapasitas itu, bisa produksi banyak karena dibantu mesin,” pungkasnya.

Selain untuk memenuhi permintaan, alasan Diah menggunakan mesin karena ingin memberi yang terbaik. Ibaratnya, apa yang dia olah dengan bersih, sehat, dan tentu enak untuk dikonsumsi sendiri, itu juga yang ingin diberikan ke orang lain.

Dapur selama 24 jam tak berhenti produksi. Tahun depan, belajar dari pengalaman dan evaluasi. Diah berencana menambah kapasitas mesin. Agar lebih bisa menjangkau seluruh pesanan. Selain itu juga bagian dari kepercayaan masyarakat terhadap berbagai olahan produknya. (rom)

 

Editor : Indra Zakaria
#Bisnis Kaltim #kue kering