Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Harga Saham Bank-Bank Besar Terkoreksi, OJK: Dinamika yang Lumrah Sejalan Mekanisme Pasar

Redaksi • Selasa, 18 Juni 2024 - 18:07 WIB
Bursa Saham di Jakarta.
Bursa Saham di Jakarta.

JAKARTA – Harga saham bank-bank besar tanah air terkoreksi dalam sebulan terakhir. Meski demikian, secara fundamental kondisi perbankan masih solid. Kinerja intermediasi, terutama kredit produktif non-UMKM, tumbuh double digit.

Misalnya, harga saham emiten PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang merosot 740 poin dalam periode 17 Mei hingga 14 Juni 2024 menjadi Rp 4.180. Ada pula PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang terkoreksi 12,5 persen dan terakhir di level Rp 5.750. Dari bank swasta, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun dari level Rp 9.750 menjadi Rp 9.200.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menyatakan, pergerakan harga saham merupakan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Misalnya, permintaan dan penawaran, makroekonomi, maupun pengaruh dari situasi global.

’’Pergerakan harga saham di bursa dapat terjadi pada berbagai sektor usaha. Termasuk sektor keuangan sehingga dinamika yang ada dipandang sebagai hal yang lumrah dan sejalan dengan mekanisme pasar yang ada,” ucap Dian Minggu (16/6).

Mantan kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) itu memastikan, fundamental perbankan per April 2024 masih kuat, resilien, dan stabil. Tecermin dari pertumbuhan kredit sebesar 13,09 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 7.311 triliun. Untuk kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) IV mencapai 15,75 persen menjadi Rp 3.807 triliun.

’’OJK telah mengimbau kepada bank-bank untuk melakukan pemantauan berkala atas perkembangan kondisi makroekonomi saat menjalankan strategi pencapaian target kinerja RBB (rencana bisnis bank) 2024,” ucapnya.

Menurut dia, tingginya pertumbuhan kredit produktif non-UMKM yang mencapai 18,45 persen YoY dipengaruhi tingginya permintaan kredit oleh korporasi swasta. Normalisasi harga komoditas dan pulihnya kegiatan masyarakat menyebabkan dana internal perusahaan menurun. Sehingga, korporasi kembali memerlukan pendanaan dari eksternal.

Di sisi lain, kebijakan moneter global yang ketat dan ketidakjelasan penurunan suku bunga Amerika Serikat (AS) yang cenderung high for longer serta penguatan USD menyebabkan tingginya yield obligasi korporasi dan biaya refinancing perusahaan.

’’Dengan suku bunga kredit perbankan domestik yang cenderung stabil, korporasi lebih memilih pendanaan dari perbankan domestik. Alhasil, permintaan kredit perbankan oleh korporasi swasta meningkat,” terangnya.

Sementara itu, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk telah menyalurkan kredit ke sektor telekomunikasi sebanyak Rp 30,7 triliun hingga akhir April 2024. Realisasi tersebut tumbuh hampir 40 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Teranyar, bank spesialis wholesale itu memberikan fasilitas kredit ke entitas anak usaha PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR). Yaitu, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) dan PT Iforte Solusi Infotek (Iforte).

Senior Executive Vice President Corporate Banking Bank Mandiri Mochamad Rizaldi menjelaskan, total fasilitas kredit yang diberikan senilai Rp 2 triliun. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk kebutuhan ekspansi bisnis perusahaan, termasuk refinancing.

’’Dukungan ini tidak hanya memberikan akses keuangan yang diperlukan, tetapi mencerminkan keyakinan Bank Mandiri terhadap pertumbuhan sektor telekomunikasi sebagai salah satu pilar utama kemajuan teknologi informasi di Indonesia,” kata Rizaldi. (han/c6/dio)

Editor : Indra Zakaria