Tak Sesuai Ekspektasi, Banyak Pemilik Mobil Listrik Ingin Kembali ke Mobil BBM, Begini Alasannya
Rian Alfianto• Senin, 24 Juni 2024 - 18:58 WIB
Sejumlah mobil listrik mengisi daya di SPKLU PLN (RIan Alfianto/JawaPos.com)
Kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) digadang-gadang menjadi sarana mobilitas yang ramah lingkungan. EV khususnya roda empat juga diyakini bakal jadi kendaraan masa depan yang banyak digunakan masyarakat secara global, termasuk di Indonesia.
Namun tampaknya, kepemilikan kendaraan listrik tidak begitu menarik bagi semua pembeli. Hal ini membuat sebagian besar dari para pemilik EV khususnya mobil, mempertimbangkan untuk kembali ke kendaraan biasa bermesin pembakaran konvensional atau Internal Combustion Engine (ICE).
Hal ini diungkapkan oleh survei baru yang dilakukan McKinsey & Co., yang menyebut bahwa 46 persen pemilik kendaraan listrik di Amerika kemungkinan akan memilih kendaraan bertenaga pembakaran untuk pembelian berikutnya.
Amerika Serikat (AS) sendiri merupakan salah satu negara dengan adopsi kendaraan listrik terbesar di dunia. Bahkan Tesla, perusahaan kendaraan listrik pionir dunia juga berasal dari Amerika.
Lebih dari 30.000 peserta menjawab sekitar 200 pertanyaan untuk studi dua tahunan McKinsey. Lebih tepatnya, survei ini dilakukan di 15 negara, mewakili lebih dari 80 persen volume penjualan secara global.
Seperti dilansir Automotive News, hasilnya menunjukkan bahwa 29 persen pemilik kendaraan listrik di seluruh dunia kemungkinan akan kembali menggunakan ICE untuk kendaraan berikutnya. Kendaraan listrik dianggap tidak sesuai ekspektasi pembelinya.
Faktor terpenting dalam meninggalkan kendaraan listrik adalah kondisi infrastruktur pengisian daya publik, diikuti oleh tingginya biaya kepemilikan dan kebutuhan untuk menemukan mobil yang lebih cocok untuk perjalanan jarak jauh.
Persentase pemilik kendaraan listrik yang ingin beralih kembali ke ICE di AS meningkat menjadi 46 persen, atau hampir 1 dari 2 pemilik kendaraan listrik saat ini, karena mereka mengklaim terkena dampak lambatnya peluncuran program Infrastruktur Kendaraan Listrik Nasional oleh Departemen Energi AS.
Faktanya, hanya 9 persen dari total peserta studi yang puas dengan perluasan jaringan pengisian daya publik di wilayah mereka, dan hal ini menunjukkan bahwa hal ini merupakan masalah global.
Philipp Kampshoff, pemimpin Pusat Mobilitas Masa Depan McKinsey, percaya bahwa keadaan akan menjadi lebih buruk, karena pembeli kendaraan listrik generasi berikutnya “akan lebih bergantung pada tarif publik dibandingkan pembeli saat ini”.
Survei yang sama menemukan bahwa 21 persen peserta tidak ingin membeli kendaraan listrik, namun hal ini membenarkan temuan terbaru dari penelitian lain. Detail menarik lainnya adalah ekspektasi jangkauan minimum di kalangan konsumen telah meningkat dari 270 mil (435 km) pada tahun 2022, menjadi 291,4 mil (469 km) pada tahun 2024.
Meskipun ada kekhawatiran, pembeli sedikit lebih rentan terhadap elektrifikasi dibandingkan penelitian sebelumnya. Lebih khusus lagi, 38 persen pemilik non-EV di seluruh dunia akan mempertimbangkan PHEV atau EV untuk pembelian berikutnya, yang berarti peningkatan sebesar 1 persen dibandingkan dua tahun lalu. (*)