PROKAL.CO, Produksi padi di Kaltim mengalami dinamika yang menarik sepanjang 2024. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), puncak panen padi tahun ini mengalami pergeseran dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika pada 2023 puncak panen terjadi pada Maret, maka di 2024 puncaknya jatuh pada September. Hal ini berdampak pada pola produksi sepanjang tahun.
"Berdasarkan hasil survei KSA (Kerangka Sampel Area), puncak panen terjadi di September 2024 dengan luas panen mencapai 19,13 ribu hektare. Sedangkan puncak panen 2023 yang terjadi di bulan Maret memiliki luas panen 15,35 ribu hektare," beber Kepala BPS Kaltim Yusniar Juliana, baru-baru ini.
Lebih lanjut, dia menjelaskan jika realisasi panen padi sepanjang Januari-September 2024 sebesar 53,17 ribu hektare atau naik 0,04 persen dibanding periode yang sama pada 2023 yang tercatat 53,15 ribu hektare.
"Sementara itu, potensi luas panen padi Oktober-Desember 2024 diperkirakan 8,77 ribu hektare. Dengan demikian, total luas panen padi 2024 diperkirakan 61,94 ribu hektare," lanjutnya.
Meski secara keseluruhan produksi padi diproyeksikan naik, namun terdapat fluktuasi yang cukup signifikan dari bulan ke bulan.
Luas panen padi pada 2024 diperkirakan meningkat 8,51 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, produksi padi pada periode Januari-September justru mengalami penurunan 6,76 persen.
Hal ini mengindikasikan adanya faktor lain selain luas panen yang mempengaruhi produksi, seperti kondisi cuaca, serangan hama, atau faktor teknis lainnya.
Untuk produksi padi, sepanjang Januari-September 2024 diperkirakan 196,94 ribu ton gabah kering giling (GKG).
Atau turun 14,27 ribu ton GKG dengan persentase 6,76 persen dibanding periode yang sama pada 2023 yang sebesar 211,21 ribu ton GKG.
Yusniar menyebut, berdasarkan amatan fase tumbuh padi hasil survei KSA September 2024, potensi produksi padi Oktober-Desember 2024 sebesar 32,34 ribu ton GKG.
Dengan demikian, total produksi padi 2024 diperkirakan 229,28 ribu ton GKG. "Atau alami kenaikan 2,31 ribu ton GKG (1,01 persen) dibandingkan 2023," sambungnya.
Produksi padi tertinggi terjadi pada September sebesar 70,95 ribu ton GKG. Sedangkan yang terendah, diperkirakan 0,90 ribu ton GKG pada akhir tahun nanti. Kutai Kartanegara sebagai sentra produksi padi di Kaltim masih mendominasi.
Namun, daerah ini juga mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan pada 2024. Dari yang semula 115,10 ribu ton GKG pada 2023 menjadi 96,30 ribu ton GKG, sudah termasuk perkiraan hingga Desember 2024.
Sebaliknya, beberapa daerah seperti Paser, Samarinda, dan Kutai Timur berhasil meningkatkan produksi padinya.
Konversi produksi padi menjadi beras menunjukkan tren yang serupa dengan padi. Produksi beras juga diperkirakan meningkat pada 2024, meskipun mengalami fluktuasi bulanan.
Diperkirakan 114,55 ribu ton beras atau alami penurunan 8,30 ribu ton (6,76 persen) dibandingkan periode yang sama pada 2023. Sementara potensi produksi beras Oktober-Desember 2024 ialah 18,81 ribu ton.
"Dengan demikian, total produksi beras 2024 diperkirakan sekitar 133,36 ribu ton, atau naik 1,34 ribu ton (1,01 persen) dibandingkan produksi beras pada 2023 yang sebesar 132,02 ribu ton," ungkap Yusniar.
Pergeseran puncak panen dan fluktuasi produksi tersebut diperkirakan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti perubahan iklim, pola tanam, serta upaya peningkatan produktivitas petani.
Dengan adanya proyeksi peningkatan produksi padi dan beras pada 2024, diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan di Kaltim. (*)