PROKAL.CO, Mengunjungi Yogyakarta rasanya belum lengkap tanpa mencicipi kuliner lokal yang melegenda. Salah satu destinasi kuliner yang wajib disambangi adalah Warung Bu Sum, yang berlokasi di kawasan Pasar Beringharjo.
Berdiri sejak lebih dari enam dekade lalu, warung ini tetap eksis dan menjadi primadona bagi pecinta masakan tradisional Jawa.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Naik Kelas, Brand Parfum Andara Cantika Siap Ekspansi ke Pasar Internasional
Meskipun telah berusia puluhan tahun, Warung Bu Sum tak pernah kehilangan pelanggan. Cita rasa autentik dan kualitas yang konsisten membuat warung ini selalu dipadati pengunjung. Bahkan, banyak pelanggan yang datang dari luar kota hanya untuk menikmati hidangan khasnya.
Menurut Udiyanti, generasi ketiga yang kini melanjutkan usaha keluarga ini, Warung Bu Sum dulunya hanyalah sebuah tempat makan sederhana tanpa nama.
Namun, seiring waktu, usaha kuliner tersebut berkembang pesat hingga mampu meraup omzet belasan juta rupiah per hari.
Menu andalan yang paling digemari pengunjung adalah sate kere, sate berbahan dasar sandung lamur, yakni daging sapi berlapis lemak, yang dibakar dengan bumbu rempah dan kecap khas Jawa.
Baca Juga: Cum Date Dividen BRI 2024 pada 10 April, Total Pembagian Rp51,73 Triliun untuk Pemegang Saham
Selain itu, tersedia pula hidangan populer lainnya seperti gulai sapi, soto daging, mangut lele, hingga nasi gudeg.
"Menu kami memang khas Jawa semua. Sate kere dari daging sapi jadi favorit, tapi banyak juga yang suka sate ayam dan menu lainnya. Kami buka dari pukul 06.00 hingga 16.00 WIB, mengikuti jam operasional pasar," jelas Udiyanti.
Keunikan lain dari Warung Bu Sum adalah cara memasaknya yang masih tradisional. Mereka menggunakan anglo (kompor arang) untuk memasak, kecuali untuk kuah. Aroma rempah yang menguar dari dapur menambah kenikmatan bersantap di tempat.
Menjelang momen Lebaran, omzet warung ini bisa melonjak drastis. Meskipun tutup selama dua hari pertama Idulfitri, Warung Bu Sum langsung kembali ramai sejak hari ketiga dan terus dipadati pengunjung hingga libur sekolah berakhir.
Baca Juga: BRI Dorong UMKM Naik Kelas, Perajin Mutiara Lombok Tembus Pasar Global dan Catat Omzet Tinggi
Didukung Pendanaan UMKM dari BRI
Kesuksesan Warung Bu Sum tak lepas dari kerja keras dan strategi bisnis yang tepat. Namun, menurut Udiyanti, dukungan pembiayaan dari Bank BRI juga memegang peran besar dalam perkembangan usahanya.
Ia pertama kali mengenal program Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI saat mengikuti acara Grebek Pasar di Beringharjo.
Meski sempat ragu dengan proses pengajuannya, pengalaman pertama meminjam dana sebesar Rp50 juta ternyata berjalan lancar. Setelah itu, ia mengajukan pinjaman lanjutan secara bertahap hingga total mencapai Rp250 juta.
Dana tersebut digunakan untuk memperluas kapasitas warung, seperti membeli etalase baru, menambah meja dan kursi, serta membeli peralatan pendingin.
"Program ini benar-benar membantu, pelayanannya juga cepat dan mudah. Saya merasa terbantu sekali dalam mengembangkan usaha," kata Udiyanti.
Program pembiayaan UMKM dari BRI memang dirancang untuk mendorong pertumbuhan bisnis kecil dan menengah.
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menyatakan bahwa pemberian KUR merupakan bagian dari komitmen BRI dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional melalui pemberdayaan UMKM.
Baca Juga: BRI Dorong Ekspor Produk Lokal, Gelap Ruang Jiwa Pamerkan Karya Aksesori di BRI UMKM EXPO(RT)
“Kisah Warung Bu Sum menjadi contoh nyata bagaimana pelaku usaha kecil bisa berkembang dengan bantuan pembiayaan yang tepat. Kami berharap semakin banyak UMKM yang bisa meraih kesuksesan serupa melalui program KUR BRI,” ujarnya.
Editor : Rahman Hakim