TANJUNG SELOR — Kinerja ekspor Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan rapor merah sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltara, nilai ekspor periode Januari hingga November 2025 mengalami penurunan drastis sebesar 47,90 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tercatat, nilai ekspor Kaltara hanya mencapai USD 1.253,57 juta, jauh merosot dari angka USD 2.406,12 juta di tahun 2024. Kepala BPS Kaltara, Masud Rifai, menjelaskan bahwa penurunan ini dipicu oleh melemahnya dua pilar utama ekspor, yakni sektor nonmigas yang turun 47,77 persen dan sektor migas yang terjun bebas hingga 70,12 persen.
Faktor utama yang menjadi penekan adalah sektor hasil tambang. Sektor ini mengalami kontraksi hebat sebesar 57,50 persen, dari nilai USD 1.934,40 juta menjadi hanya USD 822,06 juta.
"Penurunan ekspor nonmigas didorong oleh melemahnya kinerja sektor hasil tambang yang turun signifikan. Namun, di tengah kelesuan tersebut, ada titik terang pada sektor lain," ujar Masud Rifai, Jumat (9/1).
Sektor Pertanian dan Industri Mulai Unjuk Gigi Meski sektor tambang mengalami kelesuan, BPS mencatat adanya tren positif pada diversifikasi produk ekspor. Sektor hasil industri justru tumbuh impresif sebesar 49,64 persen dengan nilai USD 391,59 juta. Sektor pertanian juga tidak mau kalah dengan mencatatkan pertumbuhan 27,69 persen atau setara USD 45,98 juta.
Pertumbuhan ini menjadi sinyal positif bahwa ketergantungan Kaltara terhadap komoditas mentah hasil tambang mulai bisa diimbangi oleh produk olahan dan hasil bumi lainnya. Sektor industri dan pertanian dinilai berpotensi besar menjadi tulang punggung baru ekspor Kaltara di masa depan.
Arah Baru: Hilirisasi dan Diversifikasi Selain data nilai, BPS juga mencatat rute ekspor asli Kaltara yang dikirim melalui pelabuhan di luar provinsi. Jawa Timur masih menjadi tujuan utama dengan nilai USD 132,72 juta, diikuti Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta.
Menyikapi data tersebut, Masud menekankan pentingnya penguatan kebijakan hilirisasi agar komoditas yang keluar dari Kaltara memiliki nilai tambah yang lebih tinggi. "Ke depan, diperlukan penguatan hilirisasi dan diversifikasi komoditas agar kinerja ekspor kita lebih stabil dan tidak terlalu rentan terhadap fluktuasi harga tambang dunia," pungkasnya.(*)
Editor : Indra Zakaria