Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ekonomi Kaltim 2026 Diprediksi Menguat: Ditopang Kilang Baru dan Proyek Legislatif IKN

Redaksi Prokal • 2026-01-30 13:15:00
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Bayuadi Hardiyanto
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Bayuadi Hardiyanto

SAMARINDA – Optimisme menyelimuti prospek ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) pada tahun 2026. Meski dibayangi ketidakpastian global dan fluktuasi permintaan dunia, ekonomi Bumi Etam diprakirakan tetap mampu tumbuh lebih tinggi. Sektor industri pengolahan dan konstruksi menjadi motor utama penggerak pertumbuhan tersebut, memberikan harapan baru di tengah dinamika pasar internasional.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Bayuadi Hardiyanto, menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan akan mendapat dorongan besar dari penambahan kapasitas kilang (refinery). Sementara itu, sektor konstruksi dipastikan tetap kokoh seiring berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Fokus pembangunan pada 2026 akan mengarah pada pengembangan ekosistem legislatif dan yudikatif, dengan estimasi kebutuhan anggaran yang diprakirakan meningkat sekitar 6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor pertanian juga menunjukkan sinyal positif melalui peningkatan target Optimalisasi Lahan (Oplah) hingga mencapai 3.000 hektar. Program ini merupakan kelanjutan dari sejumlah agenda yang sempat tertunda pada 2025 akibat keterbatasan anggaran. Selain itu, optimalisasi dana Corporate Social Responsibility (CSR) juga akan lebih diarahkan untuk mendukung ketahanan pangan di wilayah Kaltim.

Namun, Kaltim tetap harus waspada terhadap tantangan dari sektor pertambangan dan pertanian. Permintaan batu bara dari Tiongkok diprediksi menurun sebesar 1,49 persen seiring dengan masifnya transisi energi global menuju sumber terbarukan. Di sisi lain, sektor perkebunan menghadapi risiko fenomena cuaca basah (La Nina) serta dampak dari peremajaan tanaman (replanting) Tandan Buah Segar (TBS) yang diprakirakan bakal menurunkan volume produksi sementara waktu.

Terkait stabilitas harga, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi di Kaltim akan tetap terjaga dalam rentang sasaran 2,5 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau diperkirakan masih menjadi penyumbang andil inflasi terbesar. Selain itu, pergerakan harga emas global dan volatilitas bahan bakar akibat ketidakpastian ekonomi internasional tetap menjadi faktor yang dipantau ketat agar tekanan inflasi pada kelompok volatile food tidak mengganggu daya beli masyarakat.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh jajaran petinggi Setda Kaltim, Bappeda, dan instansi vertikal lainnya di Kantor BI Kaltim tersebut, disepakati bahwa koordinasi lintas sektor menjadi kunci. Dengan sinergi yang kuat, tantangan global diharapkan dapat diredam oleh kekuatan ekonomi domestik Kaltim yang semakin terdiversifikasi melalui proyek strategis nasional dan hilirisasi industri. (*)

Editor : Indra Zakaria