PROKAL.CO, TARAKAN– Adopsi sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kalimantan Utara kini memasuki fase kematangan yang signifikan. Meskipun pertumbuhan pengguna baru mulai menunjukkan tren melandai, frekuensi dan nilai transaksi justru melonjak tajam. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat di Bumi Benuanta semakin terbiasa dan percaya diri dalam menggunakan metode pembayaran nontunai dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Utara, Hasiando Ginsar Manik, dalam agenda silaturahmi bersama awak media di Hotel Tarakan Plaza menjelaskan bahwa hingga Desember 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltara telah mencapai 131.000 orang. Meski pertumbuhan pengguna tahunan berada di angka 8,1 persen—yang tergolong melambat dibanding tahun-tahun awal peluncuran—hal tersebut dinilai sebagai konsekuensi alami karena luasnya basis pengguna yang sudah terlayani. Saat ini, penetrasi QRIS telah mencakup sekitar 25 persen dari total penduduk usia produktif di Kaltara yang berjumlah 392.000 jiwa.
Sisi penyedia layanan atau merchant juga menunjukkan penguatan yang konsisten. Hingga akhir 2025, tercatat sebanyak 112.826 unit usaha telah mengadopsi QRIS sebagai kanal pembayaran mereka, meningkat 18,3 persen dari tahun sebelumnya. Secara geografis, Kota Tarakan masih mendominasi kepadatan merchant QRIS tertinggi di provinsi ini, yang kemudian diikuti oleh Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Bulungan.
Lonjakan yang paling impresif justru terlihat pada volume dan nilai transaksi. Sepanjang tahun 2025, volume transaksi QRIS tumbuh sebesar 48 persen, sementara nilai transaksinya melesat hingga 266 persen. Angka ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen yang sangat drastis; masyarakat tidak lagi hanya menggunakan QRIS untuk belanja kebutuhan kecil, tetapi sudah mulai memanfaatkannya untuk transaksi dengan nominal yang jauh lebih besar.
Hasiando menilai bahwa pertumbuhan nilai transaksi yang melampaui pertumbuhan jumlah pengguna baru merupakan indikator keberhasilan digitalisasi ekonomi. Hal ini membuktikan bahwa ekosistem digital di Kalimantan Utara telah terbentuk dengan kuat, di mana kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dan efisiensi sistem pembayaran nontunai terus meningkat. QRIS kini bukan sekadar alternatif pembayaran, melainkan instrumen vital yang mendorong penguatan ekonomi digital di wilayah perbatasan.(*)
Editor : Indra Zakaria