Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Ekonomi Digital Kaltara Melejit: Transaksi QRIS Tembus Rp2,4 Triliun, Tarakan Jadi Barometer Utama

Redaksi Prokal • 2026-02-02 14:30:00
SISTEM PEMBAYARAN: Implementasi QRIS di Kaltara kian bertumbuh dalam tiga tahun terakhir. (SEPTIAN ASMADI/HRK)
SISTEM PEMBAYARAN: Implementasi QRIS di Kaltara kian bertumbuh dalam tiga tahun terakhir. (SEPTIAN ASMADI/HRK)

 

TANJUNG SELOR – Transformasi sistem pembayaran digital di Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) mencatatkan rekor impresif dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), periode 2023 hingga 2025 menjadi fase akselerasi bagi implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang kini semakin mengakar dalam denyut nadi aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kaltara, Hasiando Ginsar Manik, mengungkapkan bahwa QRIS kini bukan lagi sekadar alternatif pembayaran, melainkan telah bergeser menjadi bagian dari gaya hidup. Hingga tahun 2025, jumlah pengguna QRIS di Kaltara mencapai sekitar 131 ribu orang. Meski tumbuh 8,1 persen secara tahunan, BI mencatat masih ada ruang pertumbuhan yang sangat besar mengingat tingkat penetrasi terhadap penduduk usia produktif baru menyentuh angka 25 persen.

Lonjakan paling tajam terlihat pada volume dan nilai transaksi. Sepanjang tahun 2025, volume penggunaan QRIS di Kaltara meroket hingga 408 persen dengan total mencapai 20 juta transaksi. Secara nominal, nilai transaksi yang berputar melalui kode pemindaian ini menyentuh angka Rp2,4 triliun, atau meningkat 266 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka-angka ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dan efisiensi sistem pembayaran nontunai.

Dari sisi pelaku usaha, adopsi QRIS juga mengalami pemerataan yang signifikan di berbagai wilayah. Hingga tahun 2025, tercatat sebanyak 112 ribu merchant telah menyediakan layanan pembayaran digital ini. Kota Tarakan masih mendominasi sebagai barometer digitalisasi dengan 45.070 merchant, disusul oleh Kabupaten Nunukan dengan 28.017 merchant, dan Bulungan sebanyak 27.136 merchant. Sementara itu, Kabupaten Malinau dan Tana Tidung terus menunjukkan tren positif dalam memperluas ekosistem digital mereka.

Hasiando menegaskan bahwa potensi pengembangan ke depan masih sangat terbuka lebar, terutama dengan adanya sekitar 392 ribu jiwa usia produktif yang belum terjangkau layanan ini. BI berkomitmen untuk terus mendorong perluasan penggunaan QRIS tidak hanya di sektor perdagangan ritel, tetapi juga masuk ke layanan publik dan transportasi. Dengan ekosistem yang semakin kuat, digitalisasi diharapkan dapat menjadi motor penggerak utama inklusi keuangan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata di seluruh wilayah Kaltara. (sas/uno)

Editor : Indra Zakaria