Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kaltara Buka Tahun 2026 dengan Inflasi 4,08 Persen, Tarif Listrik dan Emas Jadi Pemicu Utama

Redaksi Prokal • 2026-02-03 11:45:00
STATISTIK: Listrik jadi salah satu penyumbang inflasi pada Januari 2026 di Kaltara. (IWAN K/RADAR TARAKAN)
STATISTIK: Listrik jadi salah satu penyumbang inflasi pada Januari 2026 di Kaltara. (IWAN K/RADAR TARAKAN)

 

TANJUNG SELOR – Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Utara resmi merilis data perkembangan harga komoditas untuk periode Januari 2026. Berdasarkan pantauan di tiga wilayah utama, yakni Tarakan, Tanjung Selor, dan Nunukan, Kaltara mencatatkan inflasi tahunan (year-on-year) sebesar 4,08 persen.

Kepala BPS Kaltara, Mustaqim, menjelaskan bahwa angka inflasi ini mencerminkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang cukup signifikan, dari 104,29 pada Januari 2025 menjadi 108,55 pada awal tahun ini. Secara wilayah, Kota Tarakan menyumbang andil inflasi tertinggi sebesar 4,31 persen, disusul Tanjung Selor sebesar 4,12 persen, dan Kabupaten Nunukan sebesar 3,67 persen.

Lonjakan inflasi ini didorong oleh kenaikan tajam pada beberapa kelompok pengeluaran, terutama kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang melambung hingga 16,92 persen. Selain itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya juga mengalami kenaikan sebesar 15,00 persen, diikuti oleh kelompok kesehatan yang naik 7,52 persen.

Sejumlah komoditas utama yang menjadi motor penggerak inflasi di awal tahun ini adalah tarif listrik, emas perhiasan, tarif air minum PAM, tarif rumah sakit, serta komoditas pangan seperti beras, ikan layang, dan ikan bandeng. Kenaikan harga sewa rumah dan sajian nasi lauk juga turut memberikan andil dalam mengikis daya beli masyarakat.

Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi, sehingga sedikit mengerem laju inflasi. Komoditas tersebut di antaranya adalah cabai rawit, tomat, bawang putih, dan cabai merah. Selain itu, penurunan harga juga terjadi pada sektor transportasi udara serta alat komunikasi seperti telepon seluler.

Secara keseluruhan, meskipun inflasi tahunan berada di angka 4,08 persen, pergerakan inflasi dari bulan ke bulan (month-to-month) di Kaltara terpantau masih relatif rendah, yakni sebesar 0,10 persen. Data ini diharapkan menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga, terutama pada sektor energi dan jasa publik yang menjadi penyumbang utama inflasi di awal tahun 2026.(*)

Editor : Indra Zakaria