Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Angin Segar dari Pasar Obligasi: Menkeu Optimistis Rupiah Segera "Bangkit" dari Tekanan

Redaksi Prokal • Rabu, 20 Mei 2026 | 10:55 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

 
JAKARTA — Di tengah bayang-bayang tekanan global yang sempat menyeret nilai tukar rupiah ke zona merah, secercah optimisme ditiupkan oleh Kementerian Keuangan. Pemerintah meyakini bahwa mata uang Garuda tidak akan lama terpuruk, menyusul mulai kembalinya kepercayaan investor asing yang berbondong-bondong menyuntikkan dana ke pasar obligasi Indonesia.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pemerintah tidak tinggal diam melihat pelemahan rupiah belakangan ini. Berbagai langkah taktis untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik terus digencarkan, salah satunya lewat aksi intervensi pembelian obligasi di pasar sekunder.

“Rupiah tidak akan bertahan di level yang rendah ini untuk terlalu lama. Kan tadi kita sudah melihat ada perbaikan sentimen ke pasar obligasi. Dana mulai masuk ke sini, dan saya pikir ke depan akan lebih banyak yang masuk sehingga rupiah akan menguat,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Mei 2026 di Jakarta.

Pada penutupan perdagangan, rupiah memang masih tertekan tipis 38 poin atau 0,22 persen ke posisi Rp17.706 per dolar AS, bergeser dari posisi sebelumnya di angka Rp17.668. Bahkan, tingginya permintaan terhadap dolar AS sempat membuat mata uang Paman Sam tersebut menyentuh level Rp17.700. Namun, situasi ini diyakini akan segera berbalik arah seiring masuknya modal baru.

Langkah pemerintah yang mulai mengintervensi pasar obligasi sejak pekan lalu tampaknya mulai membuahkan hasil manis. Tekanan di pasar keuangan perlahan mereda, yang ditandai dengan penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah. Daya tarik surat utang Indonesia pun kembali memikat para pemodal internasional.

Purbaya membeberkan bahwa arus modal asing (capital inflow) kini mengalir deras ke berbagai instrumen. Di pasar sekunder, dana asing tercatat masuk sekitar Rp500 miliar, sementara di pasar primer aliran dana asing melesat hingga menembus angka Rp1,68 triliun.

Masuknya dana segar tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia masih memegang rapor hijau di mata investor global. Menurut Purbaya, tindakan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar obligasi sudah terbukti ampuh mengembalikan kepercayaan investor asing, sehingga aliran dolar mengalir masuk dan bersiap memperkuat posisi rupiah.

Demi mengawal pergerakan modal ini, Sang Bendahara Negara mengaku terus pasang mata dan rutin berkoordinasi dengan Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, Suminto, untuk memantau pergerakan dana masuk secara real-time.

Meski kondisi pasar bergerak dinamis, Purbaya memastikan pemerintah tidak akan gegabah mengubah postur makro. Asumsi nilai tukar rupiah serta harga minyak dunia—yang dipatok sebesar 100 dolar AS per barel—dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dipastikan tetap kokoh alias tidak ada perubahan.

Pemerintah mengeklaim telah melakukan kalkulasi matang dan simulasi risiko, termasuk strategi penghematan belanja untuk membentengi perekonomian nasional dari guncangan eksternal. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak perlu mengubah apa-apa lagi karena langkah penghematan yang dilakukan sudah cukup kuat untuk menghadapi situasi saat ini, bahkan simulasi pergeseran rupiah pun sudah diantisipasi sejak awal. (*)

Editor : Indra Zakaria
#rupiah