Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Hampir Separuh Ekspor Kaltara Masih 'Mentah', Hilirisasi Harga Mati Bagi Kemakmuran Daerah

Redaksi Prokal • Senin, 25 Mei 2026 | 09:35 WIB
Aktivitas mobilisasi komoditi di pelabuhan Tarakan, Kalimantan Utara. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN
Aktivitas mobilisasi komoditi di pelabuhan Tarakan, Kalimantan Utara. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN


 TARAKAN – Ketergantungan Kalimantan Utara (Kaltara) terhadap pengiriman bahan mentah ke luar daerah masih sangat tinggi. Berdasarkan data terbaru, hampir separuh atau sekitar 43,35 persen komoditas dari provinsi termuda di Pulau Kalimantan ini diekspor dalam bentuk lokal alias bahan mentah ke wilayah lain untuk diolah lebih lanjut. Kondisi ini dinilai sebagai sebuah anomali ekonomi yang membuat dampak kesejahteraan dari kekayaan alam Kaltara belum dinikmati secara optimal oleh masyarakat setempat.

Akademisi Ekonomi dari Universitas Borneo Tarakan (UBT), Dr. Margiyono, S.E., M.Si., menegaskan bahwa percepatan hilirisasi di tingkat daerah sudah sangat mendesak. Jika seluruh sumber daya alam tersebut mampu diolah langsung di Kaltara, roda industri akan bergerak masif dan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Pengolahan di dalam daerah secara otomatis akan mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), meningkatkan pendapatan masyarakat, serta menjadi stimulus efektif dalam menurunkan angka kemiskinan.

"Kalau semua itu diolah di Kaltara maka daerah ini akan makmur. Pengolahan sumber daya alam di daerah akan meningkatkan PDRB dan menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Semua orang bekerja karena industrinya bergerak," ujar Margiyono saat memaparkan kondisi tersebut di hadapan pimpinan Kementerian Keuangan.

Langkah hilirisasi ini sejatinya sejalan dengan kebijakan serupa di tingkat nasional. Meski wacana pengaturan ulang ekspor sumber daya alam sempat memicu kepanikan jangka pendek di pasar modal hingga memengaruhi pergerakan saham sejumlah perusahaan, Margiyono menilai reaksi tersebut adalah hal yang wajar dan bersifat sementara. Dalam jangka panjang, perbaikan tata kelola ini justru akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui penciptaan nilai tambah yang riil.

Lebih lanjut, penguatan sektor industri pengolahan dipandang sebagai kunci untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan. Selama ini, struktur ekonomi domestik masih banyak ditopang oleh sektor informal seperti UMKM dan pedagang kaki lima. Sektor informal memang sangat berjasa dalam menyerap tenaga kerja secara cepat, namun kontribusinya terhadap penerimaan negara tergolong minim. Oleh karena itu, kehadiran industri hilir yang kokoh di Kaltara diharapkan mampu menjadi pilar baru yang meluruskan anomali ekonomi, sekaligus mengonversi bahan mentah menjadi kemakmuran yang nyata bagi daerah.(*)

Editor : Indra Zakaria
#kaltara