Pundit Belanda Vincent Schildkamp memperingatkan jika tren buruk kekalahan Indonesia berlanjut, maka Indonesia akan semakin sulit bersaing di level internasional. Ia bahkan menyebut kekalahan berikutnya melawan Bahrain akan membongkar semua kelemahan sistematis dalam pengelolaan sepak bola Indonesia.
"Itu tidak membantu sepak bola di sana dengan cara apa pun. Tidak peduli bagaimana Anda melihatnya, tentu saja itu adalah oportunisme yang terbaik," ujar Schildkamp tajam.
"Dan jika Anda kemudian kalah 1-5 melawan Australia dan minggu depan mungkin 0-1 melawan Bahrain, kebongkar tuh semua sirkus."Sindiran ini jelas menyoroti potensi kegagalan besar yang bisa dialami Indonesia jika tidak segera melakukan evaluasi menyeluruh.
Patrick Kluivert, yang baru saja memulai tugasnya sebagai pelatih kepala, tentu berada dalam tekanan besar. Kekalahan telak dalam debutnya semakin memperkeruh situasi, terutama dengan ekspektasi tinggi yang dibebankan kepadanya.
PSSI selama ini memang gencar melakukan naturalisasi demi memperkuat Timnas Indonesia. Beberapa nama besar dari liga-liga Eropa telah dinaturalisasi dalam beberapa tahun terakhir dengan harapan bisa membawa tim Garuda ke level yang lebih tinggi.
Namun, hasil yang terlihat di lapangan masih jauh dari harapan. Kekalahan telak melawan Australia menegaskan membangun tim yang solid tidak hanya soal merekrut pemain keturunan, tetapi juga strategi yang tepat.
Para pundit di Belanda melihat kebijakan ini sebagai langkah yang terlalu berorientasi jangka pendek. Mereka menilai tanpa pembinaan pemain lokal yang serius, Indonesia akan tetap kesulitan bersaing di kancah internasional.
Kebijakan naturalisasi memang bisa memberikan keuntungan instan. Namun, tanpa sistem yang baik, semua itu hanya akan menjadi langkah yang sia-sia, seperti yang dikritik oleh Schildkamp dan Kwakman.
PSSI tentu harus menanggapi kritik ini dengan kepala dingin. Evaluasi menyeluruh perlu dilakukan, terutama dalam menyusun strategi jangka panjang bagi Timnas Indonesia.
Patrick Kluivert pun harus segera menemukan solusi atas kelemahan yang ditunjukkan timnya. Kekalahan dari Australia seharusnya menjadi pelajaran berharga agar Timnas Indonesia tidak mengulangi kesalahan yang sama di laga-laga selanjutnya.
Laga melawan Bahrain akan menjadi ujian berikutnya bagi Kluivert dan anak asuhnya. Jika hasilnya kembali mengecewakan, maka kritik yang lebih keras kemungkinan akan datang, baik dari dalam maupun luar negeri. Timnas Indonesia tidak boleh terus-menerus mengandalkan pemain naturalisasi tanpa membangun fondasi yang kuat. (*)
Editor : Indra Zakaria