PROKAL.CO– Dalam sejarah sepak bola modern, sulit menemukan sosok wasit yang memiliki karisma sekaligus otoritas sebesar Pierluigi Collina. Pria kelahiran Bologna yang identik dengan kepala plontos dan tatapan mata tajam ini bukan sekadar pengadil lapangan, melainkan simbol integritas yang hingga kini tetap menjadi standar emas bagi wasit di seluruh dunia.
Karier Collina mencapai puncaknya ketika ia dipercaya memimpin laga-laga krusial, mulai dari final Liga Champions 1999 yang dramatis di Barcelona hingga final Piala Dunia 2002 antara Brasil dan Jerman. Kehebatannya tidak hanya terletak pada pemahamannya yang mendalam terhadap aturan permainan, tetapi juga kemampuannya dalam berkomunikasi dan mengendalikan ego para pemain bintang di lapangan.
Salah satu kunci kesuksesan Collina adalah persiapannya yang sangat detail. Jauh sebelum era analisis video menjadi lumrah, Collina sudah terbiasa mempelajari gaya bermain setiap tim dan karakteristik individu pemain sebelum pertandingan dimulai. Hal ini ia lakukan agar bisa mengantisipasi arah bola maupun potensi gesekan antar pemain, sebuah dedikasi yang membuatnya dianugerahi gelar Wasit Terbaik Dunia versi IFFHS selama enam kali berturut-turut.
Meski telah pensiun dari tugas lapangan sejak tahun 2005, pengaruh Collina tidak memudar. Ia kini menjabat sebagai Ketua Komite Wasit FIFA dan menjadi tokoh kunci di balik implementasi teknologi dalam sepak bola, termasuk sistem Video Assistant Referee (VAR). Baginya, teknologi bukanlah pengganti wasit, melainkan alat bantu untuk memastikan keadilan di tengah kecepatan permainan modern yang semakin meningkat.
Hingga saat ini, sosok Pierluigi Collina tetap menjadi pengingat bahwa seorang wasit yang hebat adalah mereka yang mampu dihormati bukan karena kartu yang mereka keluarkan, melainkan karena kewibawaan dan rasa hormat yang mereka bangun. Di tengah berbagai kontroversi keputusan wasit saat ini, kerinduan publik terhadap gaya kepemimpinan tegas ala Collina sering kali muncul kembali ke permukaan.(*)
Editor : Indra Zakaria