PROKAL.CO- Dunia sepak bola internasional saat ini berada dalam guncangan besar setelah Federasi Sepak Bola Irak (IFA) secara resmi mengumumkan niat mereka untuk menarik diri dari perhelatan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Keputusan yang mengejutkan publik ini merupakan langkah lanjutan setelah tetangga mereka, Iran, lebih dulu menyatakan pengunduran diri resminya dari turnamen paling bergengsi di planet bumi tersebut.
"Kami merasa tim nasional tidak lagi memiliki jaminan keamanan yang memadai untuk melakukan perjalanan ke turnamen ini," tegas perwakilan IFA dalam pernyataan resminya. Pihak federasi menekankan bahwa alasan utama di balik keputusan berat tersebut adalah kekhawatiran besar terkait keselamatan para pemain, staf, dan seluruh ofisial selama berada di wilayah Amerika Serikat. Kondisi saat ini dinilai sudah tidak lagi kondusif untuk tetap memaksakan partisipasi dalam ajang empat tahunan itu.
Ketegangan sebenarnya sudah mulai tercium sejak beberapa waktu lalu ketika Irak mengajukan permintaan khusus kepada FIFA untuk menunda pertandingan krusial mereka di Meksiko yang dijadwalkan pada 31 Maret mendatang. "Awalnya kami hanya meminta penundaan jadwal pertandingan di Meksiko demi mengevaluasi situasi, namun sekarang kami sedang serius mempertimbangkan untuk menarik diri sepenuhnya dari turnamen ini," tambah juru bicara federasi yang menunjukkan betapa dalamnya kegelisahan yang menyelimuti tim nasional mereka.
Langkah drastis Irak dan Iran ini bak fenomena kartu domino yang mulai merembet ke panggung global. Pertanyaan mengenai kelayakan Amerika Serikat sebagai negara tuan rumah kini tidak lagi hanya datang dari kawasan Timur Tengah. "Kami mulai mempertanyakan pilihan Amerika Serikat sebagai tuan rumah di tengah situasi yang semakin tidak menentu ini," ungkap perwakilan dari beberapa negara besar sepak bola Eropa seperti Spanyol, Turki, dan Jerman yang kini ikut menyuarakan keraguan serupa secara terbuka.
Piala Dunia 2026 yang seharusnya menjadi festival sepak bola terbesar dengan format baru kini justru menuju jurang krisis politik dan keamanan yang sangat kompleks. "FIFA saat ini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah penyelenggaraan turnamen mereka," ujar salah satu pengamat sepak bola internasional melihat gelombang protes yang semakin meluas. Hingga saat ini, badan sepak bola dunia tersebut belum memberikan tanggapan resmi mengenai ancaman pengunduran diri massal ini.
Dunia kini menanti dengan penuh kecemasan apakah FIFA mampu menyelamatkan turnamen ini atau justru terpaksa melakukan perubahan drastis di tengah badai geopolitik yang sedang berkecamuk. Satu hal yang pasti, masa depan perhelatan akbar di Amerika Utara tersebut kini berada di titik nadir.(*)
Editor : Indra Zakaria