MILAN – Bukan Zlatan Ibrahimovic namanya jika tidak melontarkan pernyataan yang memancing kontroversi sekaligus decak kagum. Mantan penyerang legendaris AC Milan tersebut baru-baru ini kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu sosok paling percaya diri di dunia sepak bola dengan menyebut masa baktinya di Major League Soccer (MLS) Amerika Serikat tak lebih dari sekadar waktu bersantai.
Ibrahimovic, yang menghabiskan satu musim di Amerika Serikat sebelum kembali ke panggung elit Eropa, mengklaim bahwa kompetisi di negeri Paman Sam tersebut jauh di bawah standar kemampuannya. Meski mencatatkan rekor impresif, pria asal Swedia ini merasa tantangan yang ia hadapi di sana tidaklah sebanding dengan level permainannya.
“Saya menghabiskan satu musim di AS, saya mencetak lebih banyak gol daripada pertandingan yang saya mainkan. Saya tahu itu bukan level saya. Level saya jauh lebih tinggi,” tegas Zlatan dengan gaya bicaranya yang lugas.
Lebih jauh lagi, pemain yang menjuluki dirinya sendiri sebagai "Singa" ini melontarkan permintaan yang tak lazim kepada otoritas sepak bola dunia. Ia mengaku sangat berharap FIFA menghapus seluruh catatan gol yang ia cetak selama berkarier di MLS. Baginya, periode tersebut hanyalah masa liburan yang kebetulan ia habiskan di lapangan hijau.
“Saya sangat berharap FIFA menghapus gol-gol yang saya cetak di MLS, saya sedang berlibur. Meskipun begitu, saya akan selalu merindukan uang mereka,” tambahnya sembari menyisipkan humor satir mengenai bayaran tinggi yang ia terima di Amerika.
Pembuktian atas ucapannya tersebut datang ketika ia memutuskan kembali ke Eropa. Ibrahimovic bergabung dengan AC Milan saat klub berjuluk Rossoneri tersebut tengah terpuruk. Namun, kehadirannya menjadi katalisator kebangkitan tim hingga akhirnya berhasil memenangkan gelar Scudetto Serie A—sebuah pencapaian yang ia anggap sebagai bukti nyata bahwa level permainannya masih berada di puncak kompetisi dunia hingga akhir kariernya.
Pernyataan terbaru Zlatan ini kembali memicu perdebatan di kalangan penggemar sepak bola internasional mengenai kualitas liga di Amerika Serikat dibandingkan dengan liga-liga top Eropa, sekaligus mengingatkan publik bahwa karisma sang legenda tetap tak meredup meski ia telah gantung sepatu. (*)
Editor : Indra Zakaria