CREMONA – Pekan terakhir Serie A musim ini menyajikan drama luar biasa dengan dua nasib yang bertolak belakang di Stadion Giovanni Zini, Minggu (24/5) malam waktu Italia. Como 1907 sukses mengukir sejarah emas dengan memastikan tiket ke Liga Champions untuk pertama kalinya setelah menang telak 4-1 atas US Cremonese. Sebaliknya, kekalahan tragis ini resmi melempar Cremonese—klub yang dibela kiper keturunan Indonesia, Emil Audero—turun kasta ke Serie B.
Keberhasilan menembus kompetisi antarklub tertinggi di Eropa ini menjadi pencapaian terbesar dalam 119 tahun berdirinya Como. Ini sekaligus melengkapi dongeng luar biasa I Lariani sejak diambil alih oleh konglomerat asal Indonesia, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono (Djarum Group) pada 2019 silam saat klub masih terpuruk di kasta amatir Serie D. Pesta Como semakin sempurna setelah di saat yang bersamaan, pesaing mereka, AC Milan, takluk dari Cagliari.
Sosok di balik keajaiban Como musim ini tidak lain adalah Cesc Fabregas. Mantan bintang Arsenal dan Barcelona tersebut membuktikan kapasitasnya sebagai pelatih muda jempolan yang berhasil menanamkan identitas menyerang dan kolektivitas tim yang solid.
"Meski baru memulai karier kepelatihan senior, Fabregas mampu membangun tim dengan identitas permainan menyerang dan kolektivitas kuat sepanjang musim," ulas media ternama Italia, Gazzetta dello Sport.
Bahkan saat kehilangan gelandang andalan Nico Paz dalam dua laga krusial terakhir, Como tetap tampil dominan. Gelandang asal Prancis, Lucas Da Cunha, keluar sebagai pahlawan dengan memborong dua gol, termasuk satu eksekusi dari titik putih. Di bawah arahan Fabregas, Da Cunha bertransformasi dari seorang pemain sayap biasa menjadi motor serangan utama yang mematikan.
Kondisi sebaliknya 180 derajat harus diterima oleh kubu tuan rumah. Kiper kelahiran Mataram, Emil Audero, yang turun sejak menit awal tidak mampu berbuat banyak menghadapi gempuran bergelombang para pemain Como. Gawangnya harus rela dikoyak empat kali dalam laga penentuan ini.
Cremonese sebenarnya sempat memperpanjang napas harapan melalui penyerang veteran Jamie Vardy yang pergerakannya membuahkan penalti untuk dieksekusi dengan baik oleh Bonazzoli. Namun, perlawanan Cremonese langsung patah akibat dominasi total tim tamu. Ditambah dengan kemenangan US Lecce di pertandingan lain, pintu bagi Cremonese untuk bertahan di Serie A resmi tertutup rapat.
Frustrasi pendukung tuan rumah bahkan sempat memuncak di tribun Stadion Zini, terutama ketika VAR menghadiahi penalti kedua untuk Como. Beberapa benda sempat dilemparkan ke dalam lapangan oleh suporter yang kecewa sebelum situasi akhirnya berhasil ditenangkan oleh pihak keamanan.
Drama sesungguhnya terjadi sesaat setelah peluit panjang ditiup. Skuad Como memilih bertahan di tengah lapangan sambil dengan tegang memantau hasil laga AC Milan di San Siro melalui gawai mereka. Begitu kabar kekalahan Milan terkonfirmasi, tangis haru dan sorak-sorai langsung pecah di Stadion Giovanni Zini. Sebagai bentuk penghormatan atas sejarah baru ini, lagu anthem resmi Liga Champions diputar keras melalui pengeras suara stadion, diiringi nyanyian "The Champions" yang menggema dari para suporter Como yang ikut bertandang. Perjalanan dari Serie D menuju panggung tertinggi Eropa dalam kurun waktu tujuh tahun ini sah menjadi salah satu kisah paling romantis sekaligus mengejutkan dalam sejarah sepak bola modern Italia. (*)
Editor : Indra Zakaria