PROKAL.CO- Kapten sekaligus megabintang tim nasional Mesir, Mohamed Salah, sukses memimpin negaranya mengukir tinta emas dalam sejarah sepak bola dunia. Keberhasilan mendepak Australia lewat drama adu penalti yang menegangkan tidak hanya mengantarkan skuad The Pharaohs menembus babak 16 besar Piala Dunia 2026 untuk pertama kalinya, tetapi juga membawa misi sosial yang mendalam bagi sang kapten.
Laga ketat yang berakhir imbang 1-1 selama 120 menit tersebut terpaksa diselesaikan melalui babak tos-tosan. Salah, yang maju sebagai salah satu eksekutor, dengan tenang menjalankan tugasnya dan membawa Mesir menang dengan skor akhir 4-2. Kelolosan bersejarah ini memecahkan kutukan tiga edisi Piala Dunia sebelumnya pada tahun 1934, 1990, dan 2018, di mana Mesir selalu rontok dan gagal melangkah dari fase grup.
Berbicara pascapertandingan, pemain berusia 34 tahun tersebut mengungkapkan bahwa kebahagiaan terbesarnya bukan sekadar statistik di atas lapangan. Salah menegaskan keinginannya agar momentum bersejarah ini bisa menyalakan api harapan bagi generasi muda. Ia ingin anak-anak, khususnya di Mesir dan seluruh dunia, percaya bahwa mereka mampu mencapai posisi hebat dan mewujudkan mimpi besar mereka, tidak hanya di dunia lapangan hijau tetapi juga di bidang kehidupan apa pun yang mereka tekuni.
Sepanjang pertandingan melawan Australia, mantan penggawa Liverpool ini menunjukkan performa magisnya di sektor gelandang serang. Berdasarkan data statistik dari Fotmob, Salah menjadi motor serangan paling berbahaya dengan catatan pencipta peluang terbanyak sekaligus pemain yang paling sering melakukan sentuhan di dalam kotak penalti lawan.
Menanggapi berbagai ekspektasi publik, Salah memilih bersikap membumi. Ia menegaskan tidak perlu membuktikan atau menjelaskan nilai dirinya kepada siapa pun karena fokus utamanya saat ini hanyalah memberikan segalanya demi membantu rekan-rekan setimnya melaju sejauh mungkin di turnamen ini.
Ujian berat berikutnya sudah menanti di depan mata. Pada babak 16 besar nanti, tantangan raksasa harus dihadapi Mesir saat mereka dijadwalkan menantang sang juara bertahan, Argentina, dalam laga hidup-mati yang akan digelar di Mercedes-Benz Stadium pada Selasa, 7 Juli mendatang. (*)
Editor : Indra Zakaria