Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Mesir Merasa Dirampok! Mostafa Ziko dan Hossam Hassan Semprot Wasit usai Kalah Dramatis dari Argentina

Redaksi Prokal • Rabu, 8 Juli 2026 | 08:41 WIB
Mostafa Ziko meluapkan kekecewaan setelah Mesir kalah kontroversial 2-3 dari Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. (Instagram/@egyptnt)
Mostafa Ziko meluapkan kekecewaan setelah Mesir kalah kontroversial 2-3 dari Argentina pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. (Instagram/@egyptnt)

ATLANTA — Gelombang protes keras melanda kubu Timnas Mesir setelah mereka tersingkir secara dramatis dari babak 16 besar Piala Dunia 2026. The Pharaohs merasa menjadi korban dari serangkaian keputusan kontroversial wasit Francois Letexier saat kalah 2-3 dari juara bertahan Argentina di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta.

Pertandingan yang berjalan super ketat itu sedianya menjadi salah satu laga paling emosional di turnamen ini. Meski sempat memimpin dua gol terlebih dahulu, Mesir harus gigit jari setelah Argentina bangkit lewat tiga gol balasan di menit-menit akhir pertandingan.

Tudingan Keras Mostafa Ziko: "Kami Dirampok Siang Bolong"

Penyerang Mesir, Mostafa Ziko, menjadi sosok yang paling vokal meluapkan kekecewaannya. Ziko menilai kepemimpinan wasit telah merampas kesempatan emas negaranya untuk mengukir sejarah lebih jauh di Piala Dunia.

Salah satu momen paling krusial terjadi ketika gol spektakuler Ziko dianulir wasit karena VAR menganggap terjadi pelanggaran terhadap Lisandro Martinez di awal proses serangan. Ironisnya, Ziko tetap dihadiahi kartu kuning karena melepas jersei saat merayakan gol yang akhirnya dibatalkan tersebut. Meski sempat membalasnya dengan gol sah pada menit ke-67 untuk membawa Mesir unggul 2-0, kekecewaan mendalam tak bisa disembunyikan sang striker.

Usai laga, Ziko tidak ragu melontarkan kritik tajam kepada media. Ia menegaskan bahwa seluruh dunia bisa melihat hal-hal aneh yang terjadi di lapangan sepanjang babak kedua, yang ia ibaratkan sejelas matahari di siang bolong. Menurutnya, wasit telah merenggut paksa hasil kerja keras seluruh bangsa Mesir, dan ia enggan memberikan pujian penuh atas kemenangan Argentina.

Rangkaian Keputusan VAR yang Membakar Amarah

Kekesalan skuad Mesir tidak hanya bersumber dari gol Ziko yang dianulir. Skuad asuhan Hossam Hassan ini juga merasa dirugikan karena tidak diberikan penalti saat Mohamed Salah dijatuhkan di area terlarang. Protes keras yang dilayangkan dari bangku cadangan bahkan berujung kartu merah untuk salah satu anggota staf pelatih Mesir karena dinilai terlalu reaktif saat meminta peninjauan VAR.

Ketegangan kembali memuncak tepat sebelum Enzo Fernandez mencetak gol kemenangan Argentina pada masa injury time. Skuad Mesir mengklaim bahwa Hamdy Fathy telah dilanggar terlebih dahulu oleh Alexis Mac Allister di kotak penalti mereka, namun pertandingan tetap dilanjutkan hingga berbuah gol penentu bagi Albiceleste.

Hossam Hassan Sebut Piala Dunia "Diatur" Demi Messi

Pelatih Mesir, Hossam Hassan, tampil sangat emosional dalam sesi konferensi pers. Secara blak-blakan, legenda sepak bola Mesir ini menyatakan timnya telah dicurangi secara tidak adil dan tidak mendapatkan rasa hormat maupun azas fair play yang semestinya sepanjang laga.

Hassan bahkan melontarkan sindiran tajam dengan menyebut trofi Piala Dunia seolah-olah memang sengaja diarahkan untuk Argentina agar sang megabintang, Lionel Messi, tetap eksis di dalam kompetisi. Saking kecewanya, Hassan menegaskan dirinya menolak untuk terus mengikuti sisa turnamen Piala Dunia 2026 sebagai bentuk protesnya terhadap ketidakadilan ini.

Sorotan Gagal Penalti Messi hingga Kritik Jadwal Siang Bolong

Di luar segala kontroversi yang ada, laga ini sebenarnya sempat menyulitkan Lionel Messi. Bintang Argentina tersebut sempat mendapatkan hadiah penalti setelah rekan setimnya dilanggar, namun eksekusinya berhasil digagalkan dengan gemilang oleh kiper Mesir, Mostafa Shobeir. Kegagalan ini memperpanjang rekor buruk Messi dari titik putih sepanjang sejarah penampilannya di Piala Dunia.

Selain performa wasit, Hossam Hassan juga menutup kritiknya dengan mengecam pihak penyelenggara terkait jadwal pertandingan. Ia menilai keputusan menggelar pertandingan sebesar babak 16 besar pada pukul 12 siang—hanya empat hari setelah laga sebelumnya—sangat tidak masuk akal dan menyiksa fisik para pemain. Menurutnya, jam siang hari adalah waktu untuk makan siang atau jalan-jalan, bukan waktu yang ideal untuk bermain sepak bola di level tertinggi. (*)

Editor : Indra Zakaria
#mesir