Oleh :dr Natsir Akil, SpPD-KR*
PENYAKIT lupus juga dikenal dengan nama Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit autoimun. Ada sekitar 80 jenis penyakit autoimun. Sebagian dari penyakit autoimun itu hanya menyerang satu organ saja. Sebagian lain menyerang banyak organ, atau bersifat sistemik.
Sampai saat ini, penyebab lupus belum diketahui dengan pasti. Beberapa faktor yang diduga berperan terhadap munculnya penyakit lupus pada seseorang, antara lain faktor genetik, infeksi, hormonal, bahan-bahan kimia, kegemukan, dan lain-lain.
Sistem Imun
Di dalam tubuh terdapat suatu sistem imun yang berfungsi melindungi tubuh terhadap berbagai kuman yang akan menginfeksi tubuh. Selain berfungsi mencegah terjadinya infeksi, sistem imun juga dapat mencegah terjadi pertumbuhan sel-sel asing di dalam tubuh yang nantinya akan menyebabkan tumbuhnya sel-sel ganas. Gangguan terhadap sistem imun dapat berupa kemampuan sistem imun yang menurun atau terjadinya keadaan yang disebut autoimmunity.
Autoimun
Autoimun menggambarkan suatu kondisi di mana sistem imun di dalam tubuh tidak mampu membedakan antara kuman dan benda asing dari luar tubuh dengan sel-sel atau jaringan tubuh sendiri. Sehingga, sistem imun menyerang sel-sel dan jaringan tubuh sendiri yang berujung pada terjadinya peradangan dan kerusakan organ-organ tubuh sendiri.
Lupus dikatakan berat jika menyerang organ-organ vital, seperti otak, ginjal dan darah, serta dikatakan ringan jika hanya menyerang kulit dan sendi.
Oleh karena penampilan penyakitnya sangat beragam, gejala dan tanda-tandanya berbeda antara satu penderita lupus (odapus) dengan penderita yang lain, maka penyakit lupus itu juga dikenal dengan istilah penyakit seribu wajah (A disease with a thousand of faces).
Tidak ada dua odapus yang mempunyai gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit yang sama. Selain gambaran klinik yang sangat beragam, lupus juga menyerupai banyak penyakit lain (The great imitator), baik penyakit yang dasarnya autoimun maupun penyakit yang non-autoimun. Lupus bisa menyerupai penyakit saraf, jiwa, darah, kulit, kanker, infeksi, dan lain-lain.
Berkaitan dengan dua hal di atas, maka penentuan seseorang apakah sedang menderita lupus atau tidak, menjadi tantangan tersendiri bagi para dokter di seluruh dunia. Diperlukan beberapa pemeriksaan untuk menentukan diagnosis seseorang lupus atau tidak. Tidak ada pemeriksaan tunggal yang dapat menetapkan seseorang menderita lupus.
Kadang-kadang, perlu waktu beberapa lama untuk memastikan seseorang terkena lupus atau tidak. Pada beberapa kasus, seseorang odapus harus berpindah-pindah ke beberapa dokter sebelum diagnosis lupusnya tegak.
Gejala dan Tanda-Tanda Lupus
Gejala dan tanda-tanda lupus bisa berupa, nyeri sendi, radang sendi, demam, sakit kepala, rambut rontok, sariawan, cepat capek, nafsu makan menurun, ruam menyerupai kupu-kupu di muka, dan bercak kemerahan di badan jika terpapar sinar matahari (fotosensitivitas).
Faktor-Faktor Pencetus Lupus
Salah satu hal yang perlu diketahui oleh penderita lupus (odapus) adalah apa saja yang bisa mencetuskan atau memperberat gejala-gejala lupusnya.
Faktor-faktor pencetus lupus, antara lain sinar ultraviolet dari matahari; sinar ultraviolet dari lampu pijar; obat-obatan sulfa (membuat penderita lupus lebih peka terhadap cahaya matahari), seperti trimethoprim (obat sulfamethoxazole, sulfisoxazole, sulfasalazine, diuretik pelancar kencing); dan obat-obatan tetrasiklin.
Selain itu, antibiotik seperti amoksisiklin dan ampisiklin; menderita infeksi; kedinginan; kelelahan; mengalami trauma atau kecelakaan; stres emosional seperti mengalami suatu perceraian, menderita penyakit tertentu, kematian di dalam keluarga, dan kesulitan-kesulitan hidup lainnya; stres pada tubuh seperti mengalami pembedahan, trauma fisik, kehamilan, ataupun persalinan.
*) Internist Konsultan Reumatologi di RSUD Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan dan RS Restu Ibu Balikpapan
Editor : izak-Indra Zakaria