Bekerja keras saja ternyata belum cukup untuk bisa meraih sukses. Kuncinya sabar, ulet, dan tekun. Pesan itulah yang disuguhkan dalam film Ranah 3 Warna. Film yang juga diangkat dari novel Ranah 3 Warna karya Ahmad Fuadi membuat MNC Pictures memproduksi film dengan judul yang sama. Ahmad Fuadi memang dikenal sebagai penulis novel dan buku yang memberikan pesan positif.
CERITA Ranah 3 Warna ternyata merupakan sekuel dari cerita Negeri 5 Menara. Cerita tersebut merupakan bagian dari trilogi yang diakhiri dengan Rantau 1 Muara. Rencananya, kisah dalam novel Rantau 1 Muara itu dibuat versi layar lebarnya. Dari sejumlah buku dan novel yang ditulis, Ahmad mendapatkan beragam penghargaan.
Dikutip dari Antara, Guntur Soeharjanto yang menjadi sutradara dalam film Ranah 3 Warna membeberkan cerita dari film layar lebar yang diangkat dari novel populer tersebut. Film Ranah 3 Warna memiliki jalan cerita yang sama dengan novelnya, yaitu mengangkat kisah Alif Fikri yang merupakan pemuda asal Maninjau, Sumatra Barat, dalam menuntut ilmu dan mengejar cita-cita sampai ke Kanada. "Kisah tentang seseorang yang sudah berusaha sekuat tenaga, sudah Man Jadda Wa Jadda, namun belum juga berhasil. Perlu adanya kesabaran," kata Guntur. Cerita Alif Fikri dalam menuntut ilmu itu akan dijelaskan di versi layar lebarnya. Selain itu, dalam kisahnya tersebut banyak pesan yang menginspirasi anak-anak muda menuntut ilmu.
"Sangat related dengan kehidupan saat ini di tengah situasi pandemi," ujar Guntur Soeharjanto.
Dalam mewujudkan cita-citanya, banyak tantangan yang dihadapi Alif hingga dia terus mencari solusi untuk mewujudkan impiannya. "Sabar itu tetap aktif mencari solusi. Hal itu yang ingin ditunjukkan Alif Fikri, tokoh sentral dalam film ini," imbuhnya. Karakter Alif Fikri diperankan Arbani Yasiz, aktor muda yang saat ini tengah naik daun. Bagi Arbani Yasiz, memerankan karakter yang sudah populer tentu saja merupakan sebuah tantangan. Perjuangan Alif Fikri dalam menggapai cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri ternyata tidak mudah. Anak muda lulusan pesantren itu harus menghadapi berbagai tantangan untuk menjadi seperti sang idola, Bacharuddin Jusuf Habibie alias BJ Habibie.
"Hampir setiap hari take, enggak ada jeda. Aku ada di sekitar 90 persen film. Alhamdulillah semua berjalan lancar," ujar Arbani Yasiz. Selain Arbani Yasiz, film Ranah 3 Warna juga dibintangi Amanda Rawles hingga Teuku Rassya. Film yang rencananya tayang serentak di bioskop se-Indonesia pada 30 Juni mendatang memang sempat mengalami penundaan lantaran Covid-19.
"Film ini dapat menjadi pilihan tontonan masyarakat dengan cerita yang sangat apik dan berkualitas," ujar Direktur Utama MNC Pictures Titan Hermawan dikutip dari keterangan pers yang diterima di Jakarta, Senin. "Ranah 3 Warna" yang dibintangi Arbani Yasiz, Amanda Rawles dan Teuku Rassya itu menceritakan sosok anak muda bernama Alif Fikri yang punya mimpi besar dan tekad yang kuat namun selalu dibenturkan dengan segala rintangan.
Secara tidak langsung, film Ranah 3 Warna merupakan cerminan keresahan yang dialami generasi Z dan milenial dalam seperempat abad kehidupan mereka, atau yang sering disebut quarter life crisis. Selain memiliki nilai edukasi, film tersebut berusaha mengangkat budaya Minang.
SEMPAT STRES
Aktor Arbani Yasiz membintangi film Ranah 3 Warna, dan memerankan Ali Fikri sebagai karakter utama, Arbani harus menguasai bahasa Minang. “Aku ada di sekitar 90 persen film. Aku di sini harus menguasai bahasa Minang beserta dialeknya,” ujar Arbani. Pemain film Rompis the Movie itu menceritakan momen saat menjalani syuting film Ranah 3 Warna. Menurut Arbani, proses syuting film itu dilakukan setiap hari tanpa jeda. Meski cukup menguras energi, Arbani bersyukur kondisi kesehatan tetap terjaga dengan baik, sehingga proses syuting tidak mengalami kendala. “Alhamdulillah semua berjalan lancar,” kata Arbani Yasiz.
Lawan main Arbani Rassya mengatakan, dia pun melakukan observasi demi mendalami karakter yang diperankannya di film Ranah 3 Warna. Dia harus mendengarkan secara langsung seperti apa orang-orang Padang ketika berbicara. Teuku Rassya juga banyak belajar bahasa Minang dan aksesnya. “Aku juga mencoba masakan Padang,” ujarnya sambil tertawa.
Bukan hanya Arbani dan Rassya yang belajar bahasa Minang, Amanda Rawles yang berperan sebagai Raisa di film tersebut juga harus mempelajari. Mempelajari bahasa Minang cukup menantang baginya, dan termasuk sesuatu yang baru. Di film Ranah 3 Warna, Raisa diceritakan sebagai seorang jurnalis kritis.
“Aku belajar bahasa Minang dan tari Minang sejak proses reading,” akunya sambil tersenyum.
Film Ranah 3 Warna menunjukkan kekayaan budaya Indonesia khususnya budaya Minang. Bukan hanya itu, film tersebut menarik karena menyematkan sejumlah pesan positif dan inspiratif. Seperti tentang pentingnya semangat untuk menggapai sebuah cita-cita.
Dia menilai, film ini relate dengan situasi sekarang pada masa Covid-19. Karena mungkin banyak orang yang gagal dalam mewujudkan cita-citanya akibat terbentur keadaan yang tidak mengenakkan. Jika hal itu terjadi, maka harus lebih bersabar karena hari besok masih ada harapan cerah.
Guntur menegaskan, pesan-pesan positif yang ada di film ini dapat diambil para penonton untuk menjadi pedoman hidup sehari-hari. “Saya berharap film ini mampu menjadi teladan yang baik bagi para penggemar film di Indonesia,” tutupnya. (jpc/dra/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria