Kebun hijau dan asri itu adalah hadiah ulang tahun dari istri tercinta. Untuk mengisi masa pensiun. Juga sebagai wadah wisata edukasi bagi anak-anak sekolah.
EMPAT perempuan dari sekolah Fastabiqul Khairat Samarinda menjadi tamu Akhmad Hidayat, Jumat (26/8) pagi. Mereka ingin mengatur jadwal kunjungan siswa-siswi sekolah Islam itu ke Green House Melon Hidayat Farm di Jalan AW Syahrani, Gang 4, Samarinda. Maklum, tempat budi daya buah kaya nutrisi tersebut sedang menuju masa panen.
Di bawah gazebo dengan empat kursi, tuan rumah menjamu tamunya dengan hangat. Setelah komunikasi terkait urusan outing class beres, Dayat, begitu Akhmad Hidayat disapa, menyuguhkan sebuah melon golden emerald dari kebunnya untuk dicicipi. Beratnya sekitar 1,5 kilogram.
“Itu belum masak betul, sebenarnya belum siap panen,” ujar Dayat. “Sekitar dua pekan lagi, atau minggu kedua September baru siap dipanen,” sambung pensiunan pegawai negeri sipil itu.
Kaltim Post berkesempatan mencicipi potongan melon tersebut. Rasanya manis dan “beda”, kendati belum matang sepenuhnya. “Tingkat kemanisannya 12,5 derajat brix,” ujar Dayat sembari menunjukkan angka pada alat ukur portable refractometer. Kenapa rasanya berbeda? “Karena bibitnya impor, dan ditambahkan nutrisi lagi,” sambung dia.
Green House Melon sejatinya hadiah ulang tahun ke-60 bagi Dayat, yang dipersembahkan istrinya, Ismiati. Sekaligus untuk mengisi masa purnatugasnya sebagai abdi negara. Kebetulan saat itu juga memasuki awal pandemi Covid-19 di Indonesia.
Lahan berukuran 17x25 meter itu pun menjadi hobi baru yang ditekuni Dayat. Saat ini, dia merawat 1.104 pohon melon yang terdiri dari dua jenis itu; golden emerald dan momiji. “Itu masa tanam kelima dan bibitnya dari luar. Premium. Empat masa tanam sebelumnya bibit lokal. Alhamdulillah semuanya berhasil,” urai Dayat.
Pemilihan melon lantaran buah ini dinilai kaya nutrisi yang bermanfaat untuk banyak orang. Sejak ditanam hingga panen memerlukan waktu sekitar 70-75 hari. Sekali panen bisa mencapai 1,5-2 ton. Dengan tingkat kemanisan 12-15 derajat brix. Jumlah tersebut biasanya habis terjual dalam waktu maksimal tiga pekan.
“Kami belum sampai menyalurkan ke supermarket karena habis di sini (Green House). Pembeli datang sendiri ke sini. Ada yang ingin merasakan memetik langsung, ada juga yang minta dipetikkan,” kisah Dayat.
Saat ini Dayat memasuki masa tanam kelima. Usianya sudah 55 hari. Sekitar dua pekan lagi bisa dipanen. Selain dijual, Green House Melon juga ditujukan untuk wisata edukasi. Utamanya bagi anak-anak sekolah. Yang ingin mengenal budi daya melon, dan pengelolaan lingkungan yang baik. “Konsepnya ekowisata. Untuk outing class, edukasi farming, atau pertanian modern,” terang Dayat.
Pengelolaan Green House Melon dilakukan mandiri. Sebagai birokrat, Dayat sama sekali tak memiliki kemampuan dasar bertani. Sekitar sepuluh bulan awal, dia didampingi tenaga pertanian. Untuk belajar budi daya, mulai penyemaian, penanaman, perawatan, pemberian nutrisi, hingga panen.
Pada empat masa tanam awal, Dayat menggunakan sistem sekam. Yang harus diairi secara manual sehari empat kali. Namun, pada masa tanam kelima kali ini, dia mencoba menggunakan sistem hidroponik. Untuk memudahkan perawatan dan menghemat nutrisi yang diberikan kepada tanaman. “Setelah panen akan dilakukan pembersihan sekitar seminggu. Setelah itu ditanam lagi yang baru,” jelas Dayat.
Dia menyebut tak banyak kendala meski dilakukan secara autodidak. Persentase kegagalannya terhitung kecil. Gangguan tak banyak, sebatas buah busuk atau daun yang layu. “Yang penting rajin dirawat. Misalnya membuang tunas air. Tunas air itu tak berguna, tapi kalau dibiarkan, dia menghabiskan air,” sebut Dayat.
Pada masa tanam pertama, Dayat harus merogoh kocek lumayan untuk bibit. Meskipun masih menggunakan bibit lokal. Selain itu, dia menghabiskan ratusan juta rupiah untuk instalasi. Baik itu instalasi hidroponik maupun kerangka green house-nya.
Di samping tempat budi daya melon, Dayat memanfaatkan lahan kecil yang tersisa untuk menanam anggur. Ada tujuh jenis. “Itu baru habis panen,” ujar dia sembari memperlihatkan buah anggur yang tersisa. (dwi/dra/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria