Passion Seni yang Tak Sekadar Musik

izak-Indra Zakaria • Dipublikasikan Senin, 24 Juli 2023 | 09:52 WIB
Saira Syaharani Ibrahim
Saira Syaharani Ibrahim

Syaharani adalah diva bagi penikmat musik jazz Tanah Air. Meski jarang muncul di layar kaca, penyanyi bersuara khas itu tetap eksis di dunia tarik suara dan aktif berkarya. Baru-baru ini, Jawa Pos berbincang dengan pemilik nama lengkap Saira Syaharani Ibrahim tersebut tentang passion seninya.

 

Apa kabar Mbak Rani?

Kabar baik. Alhamdulillah, saya sehat. Di tempat tinggal saya (Bintaro, Jakarta Selatan) sering hujan, tapi cerah juga.

 

Belum lama ini merilis single SAGA ya, Mbak. Boleh diceritakan bagaimana proses kreatifnya?

SAGA itu awalnya dari masa pandemi. Saat pandemi enggak berani ke mana-mana, jadi hanya bisa kumpul dengan beberapa teman. Salah satunya Sonny Hudisaksono. Teman lama banget, saat aku kuliah sudah nge-band sama Sonny. Saat pandemi nongkrong dan ngobrol, tapi aku tuh orang yang enggak bisa hanya nongkrong dan ngobrol. Jadi kalau bisa sambil main musik, ya ayok bikin sesuatu. Sekarang proses produksi juga sudah simpel, mudah, di rumah juga bisa. Digital store juga banyak. Jadilah si SAGA itu. Ada dua lagu juga lho yang belum dirilis.

 

Wah menarik. Lalu, kapan dua lagu itu dirilis?

Rencananya itu proyek rileks dan senang, tapi memang musiknya kontemplatif. Genrenya alternative ambience, jadi ada nuansa-nuansa menggunakan efek-efek, elektronika juga. Memang enggak pakai alat apa pun, jadi hanya pakai program semua.

 

Mbak Rani kan menggeluti musik yang tidak mainstream ya. Ada tantangan yang dihadapi?

Kebetulan aku itu beruntung karena punya teman-teman yang selain seniman juga pemikir. Jadi kita bikin musik bukan basisnya, “Oh kita mau jualan, bikin ini aja,” enggak begitu. Jadi SAGA juga berawal dari diskusi. Diskusi soal apa, soal peninggalan spiritual seperti Borobudur, Stonehenge, Machu Picchu. Jadi, kalau main ke rumah itu sambil buka buku sejarah, arkeologi. Itu menjadi diskusi. Dan di lagu SAGA sudah ada endapan-endapan bacaan sejarah plus film dokumenter.

 

Kalau ukuran Mbak Rani yang sudah senior, butuh waktu berapa lama sih untuk membuat lagu?

Setiap lagu berbeda. Kadang ada lagu yang mbulet sampai setahun itu enggak ketemu. Contohnya lagu Syaharani & Queenfireworks yang kalau dimainkan selalu dapat tepuk tangan. Namanya Morning Coffee. Itu lagu notasinya gampang, tapi liriknya baru selesai setengah tahun.

Kalau SAGA aku dapatnya di satu malam, lalu aku menangis. Karena aku membayangkan manusia mendapatkan keyakinan itu pengorbanannya bukan main. Itu sangat mengharukan. Mirisnya, di zaman ini orang tidak banyak peduli itu. Tapi, aku dan Sonny nekat.

 

Jadi, Mbak Rani orang yang idealis dan bertemu dengan partner-partner yang sepemikiran juga ya?

Nah, itulah beruntungnya aku. Karena enggak semua orang bisa menemukan itu. Kalau sudah nemu yang bareng itu kan kekuatan kita berlipat ganda dan semangat juga. Teman-teman ngasih komentar ke lagu itu, juga beberapa ahli sejarah. Jadi seru, bukan hanya joget-joget.

 

Sebagai musisi yang pernah membintangi sejumlah film, apakah passion Mbak Rani sampai saat ini masih tetap di musik?

Sebetulnya passion-ku untuk menikmati kesenian itu sangat besar tapi menikmati saja. Contohnya, aku tidak bisa melukis, tapi aku bisa menikmati lukisan. Nah, kalau untuk main film, ya lumayan karena aku pernah ikut teater juga. Beberapa waktu lalu sempat main film Lara Ati the Movie, dan aku sempat diapresiasi dari beberapa pihak juga.

Jadi, passion-ku enggak habis di musik saja. Bagiku, saat ini menelurkan karya yang inspiratif itu menjadi hal yang pokok ya.

 

Ada goal yang sedang diperjuangkan?

Kalau di musik rasanya akan terpuaskan kalau kita menghasilkan karya. Lalu, ketika menuai komentar pendengar. Apa pun komentarnya, itu berarti mereka memberikan perhatian pada karya kita. Kalau goal lainnya, pasti menjaga kesehatan, menjaga pikiran, termasuk mental. Jangan sampai stres. (jpg/dee/c6/hep/dra/k16)

Editor : izak-Indra Zakaria