JAKARTA – Drama thriller Sleep Call resmi dirilis hari ini (7/9). Film besutan Fajar Nugros itu menceritakan Dina (Laura Basuki) yang terjebak dalam ’’lingkaran setan’’ pinjaman online alias pinjol. Dia sendiri bekerja untuk perusahaan pinjol ilegal milik pengusaha Malaysia, Tommy (Bront Palarae), yang dipimpin ’’bos lokal’’ Bayu (Kristo Immanuel).
Untuk melarikan diri dari kesibukan, dia berkawan dengan Rama (Juan Bio One) lewat sleep call tiap malam. Namun, panggilan itu justru mengantar Dina ke masalah yang lebih besar dan kelam.
Dalam konferensi pers di Epicentrum XXI kemarin (6/9), Juan Bio dan Laura Basuki menyatakan, berakting di Sleep Call memberi mereka pengalaman baru. Laura menilai, peran Dina adalah yang paling rumit buatnya. ’’Untuk masuk ke peran Dina, aku banyak merenung sih. Karena apa yang dia alami cukup jauh dari aku. Jadi, PR aku cukup banyak,’’ paparnya.
Sementara itu, Bio menilai, kesulitan terbesarnya justru beradu akting dengan Laura. ’’Saya nggak boleh minder di depan Laura, karena tiap dekat dia, saya deg-degan,’’ kata bintang Balada si Roy (2022) itu. Untuk mendalami peran dan chemistry, dia juga selalu ada di lokasi syuting, meski tidak ada jatah pengambilan gambar.
Fajar menyatakan, ide Sleep Call muncul dari keingintahuannya akan tren sleep call. Cerita lalu dikembangkan dengan pengamatan sehari-hari. Sutradara yang membesut Yowis Ben (2018) itu biasa memperhatikan penumpang komuter yang sibuk dengan ponselnya. ’’Beda banget dengan ketika sebelum pandemi atau mungkin lebih jauh lagi, sebelum ada ponsel pintar,’’ ungkap Fajar.
Masalah itu dikemas lewat tokoh Dina, pegawai pinjol ilegal yang kesepian. Pinjol dipilih karena familier buat banyak penonton. ’’Dan saya menilai, pinjol ini sudah ’merasuk’ ke mana pun. Banyak cerita korban, yang mungkin masih dari lingkaran teman atau keluarga,’’ lanjutnya. Bedanya, kali ini cerita ditinjau dari sudut pandang pegawainya.
Susanti Dewi –produser yang juga istri Fajar– menilai Sleep Call punya isu terkini yang dekat dengan banyak orang, terlepas dari dramatisasi cerita. ’’Sekalian aku ingin membangun cerita yang tidak cuma menghibur, tapi juga mencetuskan diskusi-diskusi setelahnya,’’ ujarnya.
Meski punya konflik rumit dan karakter kompleks, Sleep Call juga dibalut penuh warna. Sinematografer Wendy Aga menyatakan, dirinya menggali isu-isu dari skenario untuk mendapat latar yang akurat. Meski sarat cerita dan karakter yang kelam, dia memilih menampilkan warna-warna cerah dan neon.
Wendy menegaskan, penerapan warna itu direncanakan cermat agar bisa mengena di mata dan rasa, tanpa terkesan artifisial. ’’Kami ingin bikin visualisasi kesakitan yang indah. Sekaligus mengedukasi penonton bahwa ketakutan tidak dibangun dari warna gelap, tapi dari konflik karakter,’’ tegasnya. (fam/c18/ayi)
Trivia
- Untuk mendalami latar cerita, Fajar dan beberapa kru melakukan pinjol. Fajar mengaku sempat stres karena proses penagihan yang meneror.
- Awalnya, Fajar dan penulis naskah Husein M. Atmodjo merencanakan tokoh utamanya berprofesi sebagai arsitek.
- Debut Rachel Vennya mendapat pujian dari cast dan kru. Acting coach Rukman Rosadi dan sutradara Fajar Nugros menyatakan, Rachel bekerja keras dan sering mencatat arahan sutradara atau darinya di skrip.
- Sleep Call dikonfirmasi tayang di IFFest New York 2023 pada 17 September. Film itu juga masuk 30 besar film seleksi awal Piala Citra.
Editor : izak-Indra Zakaria