Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Polutan Ekstrem, Asap Rokok, hingga Polusi Udara Picu Penyakit Paru Obstruktif Kronis Emfisema

izak-Indra Zakaria • 2023-10-01 21:40:30
BERTAHAP: Emfisema ditandai dengan gejala awal seperti napas pendek atau sesak napas, batuk, mengi, dan mudah lelah. (Foto ilustrasi diperagakan Dita Putri - Alfian Rizal/Jawa Pos)
BERTAHAP: Emfisema ditandai dengan gejala awal seperti napas pendek atau sesak napas, batuk, mengi, dan mudah lelah. (Foto ilustrasi diperagakan Dita Putri - Alfian Rizal/Jawa Pos)

Kerusakan kantong udara di paru-paru membuat penderitanya mengalami sesak napas. Gejala akan timbul tiap melakukan aktivitas sehingga mengganggu kualitas hidup. Perokok aktif maupun pasif berisiko besar terkena emfisema. Mari terapkan gaya hidup sehat di bulan paru sehat.

---

RASA sesak napas yang muncul setiap melakukan kegiatan berat tidak boleh dianggap remeh. Bisa jadi itu gejala awal emfisema. Yakni, kondisi paru yang mengalami kerusakan pada kantong udara atau alveolus.

’’Lama-kelamaan, sesak napas itu bisa muncul saat aktivitas ringan seperti mandi atau menyisir rambut, bahkan ketika istirahat,’’ terang dr Rita Hapsari Meta SpP FAPSR. 

Penyakit yang termasuk dalam klasifikasi penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) itu bersifat kronis dan progresif. Ditandai dengan kelainan anatomi berupa pelebaran rongga udara dan kerusakan parenkim paru. ’’Orang menyebutnya paru-paru molor atau tidak elastis lagi,’’ lanjut dokter spesialis paru Mayapada Hospital Surabaya itu.

Alveolus yang rusak tidak bisa dipulihkan kembali. Jadi, pengobatan pada emfisema hanya bertujuan mengendalikan gejala dan mencegah perburukan atau komplikasi. Termasuk menurunkan angka kematian akibat terapi yang kurang tepat. ’’Emfisema tidak bisa disembuhkan. Jadi, segera konsultasi bila ada keluhan di saluran pernapasan,’’ imbaunya.

Umumnya, emfisema ditandai dengan gejala awal seperti napas pendek atau sesak napas, batuk, mengi, dan mudah lelah. Pada kondisi yang buruk, beberapa orang dapat mengalami perubahan warna bibir atau kuku menjadi abu-abu kebiruan lantaran kekurangan oksigen.

’’Pada beberapa kasus, penderita emfisema bisa jadi tidak menyadari gejalanya hingga bertahun-tahun,’’ ujar dr Rita. Biasanya, penderita emfisema kesulitan dalam mengembuskan napas. Kondisi itu terjadi secara bertahap. Ada pula kondisi yang khas saat dada terlihat membesar seperti tong atau disebut barrel chest. ’’Orang dengan kondisi ini juga memiliki tulang rusuk yang meluas seperti sedang mengambil napas panjang akibat emfisema paru,’’ imbuhnya. 

Dokter Rita menyebut paparan jangka panjang terhadap iritasi udara sebagai penyebab utama emfisema. Di antaranya, asap tembakau, polusi udara, asap kimia, dan debu. Di samping itu, pertambahan usia juga berpengaruh. Jaringan paru-paru pada lansia lebih rentan rusak sehingga memicu emfisema.

’’Pada pengidap emfisema akibat merokok berat, tentu langkah awal pengobatan harus stop merokok,’’ urai dr Rita. Emfisema jarang menyerang usia muda. Kalaupun terjadi, biasanya karena ada kelainan genetik, defisiensi antitripsin alfa-1 (AATD). ’’Selain itu, rentang usia penderita dapat berkisar lebih muda, yaitu di usia 40–45 tahun. Diduga karena polutan ekstrem dan kebiasaan merokok yang dimulai di usia remaja dengan jumlah berlebih,’’ paparnya. (lai/c18/nor)

CEGAH EMFISEMA DENGAN GAYA HIDUP SEHAT 

• Berhenti merokok. Bagi nonperokok, pakai masker agar asap rokok orang lain tidak terhirup langsung.

• Hindari udara dengan kadar polutan tinggi.

• Jaga kualitas ventilasi udara yang baik di rumah.

• Berolahraga secara rutin untuk melatih kekuatan otot pernapasan.

• Pola makan sehat dan seimbang.

KENALI GEJALA EMFISEMA

• Sesak napas, terutama saat melakukan aktivitas

• Batuk terus-menerus

• Mudah kelelahan

• Sesak atau nyeri dada

• Bibir atau kuku menjadi abu kebiruan

Sumber: dr Rita Hapsari Meta SpP FAPSR

 

 

 
Editor : izak-Indra Zakaria
#kesehatan