SEPAKU-Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memastikan hingga kini belum ada menemukan kasus malaria yang berasal dari kawasan IKN. Terkait kasus malaria yang ditemukan di wilayah IKN pada tahun 2022 lalu dipastikan berasal dari luar wilayah IKN.
"Begitu kita lakukan pelacakan ternyata itu bukan dari IKN, melainkan pekerja dari luar IKN yang kebetulan bekerja disitu," kata Deputi Bidang Sosial, Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat OIKN Alimuddin lewat keterangan resmi yang diterima Prokal.co.
Tim Kerja Malaria Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Helen Dewi Prameswari mengatakan, belum ada temuan kasus malaria di IKN.
Menurut Helen permasalahan malaria di wilayah IKN yang ditenukan pada tahun 2022 kemarin, sebenarnya berasal dari wilayah lintas batas yang berbatasan dengan Kabupaten PPU, kabupaten Paser dan Kabupaten Kutai Barat.
Tingginya angka kasus malaria di Kabupaten PPU merupakan muara kasus dari wilayah lintas batas kabupaten tersebut, dimana pada Kabupaten PPU terdapat satu puskesmas rawat inap yang menjadi rujukan dari wilayah perbatasan, yaitu Puskesmas Sotek di Kabupaten PPU. Selain itu juga akses jalan yang bisa dilalui dari perbatasan wilayah hanya ke Kabupaten PPU.
"Temuan yang dilakukan oleh Kemenkes menujukkqn bahwa di kawasan IKN khususnya Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) tidak ditemukan adanya malaria," ungkap Helen.
Sementara itu Pengelola Program Malaria Dinas Kesehatan Penajam Paser Utara (PPU) Ponco Waluyo mengatakan, kasus malaria terakhir yang ditemukan diwilayah yang saat ini menjadi IKN tersebut pada November 2018 lalu.
"Itu kita temukan kasus indigenous terakhir yang di situ dan sampai sekarang tahun 2023 tidak pernah lagi kita temukan kasus indigenous,” terang Ponco.
Ponco Waluyo yang sudah sejak tahun 1992 menyebut, beberapa kasus maria yang ditemukan di wilayah IKN merupakan kasus impor dari tempat lain. Seperti temuan kasus di Persemaian Semoi beberapa waktu lalu.
"Itu kasus dari luar yaitu beberapa kasus yang positif dari pekerja daerah aliran sungai yang menanam sepanjang jalur yang ada di IKN,” ungkap Ponco.
Ponco juga telah melalukan survei bersama tim nya untuk kelompok pekerja yang beresiko. Termasuk melakukan uji sampel terhadap pekerja kontruksi. "kita lakukan pemeriksaan hingga saat ini belum ada yang terpapar kasus malaria jadi sebenarnya itu aman.”ucap Ponco.
Berdasarkan informasi yang diperoleh OIKN, wilayah endemis malaria terdekat dengan IKN berada di Kelurahan Sotek, Kabupaten PPU yang berjarak kurang lebih 40 KM dari titik nol IKN di Kecamatan Sepaku. Sementara nyamuk Anopheles yang menjadi penyebab malaria paling jauh terbang hanya satu sampai dua kilometer.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, OIKN akan melakukan sosialisasi dan koordinasi untuk pencegahan penularan malaria di wilayah IKN.
"Tahun depan ketika pemerintah daerah khusus diberlakukan, maka organ pelayanan dasar kesehatan harus berfungsi maksimal dan modern. Maka mulai saat ini sedang dirancang termasuk pemanfaatan teknologi informasi yang menjadi salah satu bidang layanan transformasi hijau,” tambah Alimuddin.
Sebagai informasi, wilayah daratan IKN seluas kurang lebih 256.142 hektare, yang terletak pada dua kabupaten eksisting, yaitu Kabupaten PPU dan Kabupaten Kutai Kartanegara. Kawasan IKN beririsan dengan enam kecamatan, yaitu Kecamatan Sepaku, Kecamatan Samboja, Kecamatan Loa Janan, Kecamatan Loa Kulu, Kecamatan Muara Jawa, dan Kecamatan Sanga-Sanga. (hul)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan