PENAJAM – Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersinergi dengan Sekretariat Kerja Kantor Bersama Bank Indonesia (BI) tengah serius membangun fondasi ekonomi di wilayah penyangga IKN melalui sektor pertanian. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah mengoptimalkan potensi kopi lokal, khususnya jenis Kopi Liberika, guna meningkatkan kesejahteraan petani di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono, menjelaskan bahwa pengembangan kopi lokal ini menjadi prioritas untuk memastikan keberadaan IKN memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga setempat. Fokus pengembangan saat ini dipusatkan di kawasan Agro Wisata Desa Sukaraja, Sepaku, dengan tujuan meningkatkan kualitas produksi serta daya saing produk kopi di pasar yang lebih luas.
Dalam kolaborasi ini, OIKN dan BI tidak hanya memberikan dukungan sarana, tetapi juga pendampingan intensif bagi para petani. Setia menekankan pentingnya pembekalan kapasitas sumber daya manusia, terutama pada tahapan pascapanen. Hal ini dilakukan agar para petani memiliki keterampilan mumpuni dalam menjaga konsistensi kualitas kopi, sehingga produk mereka memiliki nilai tambah dan tidak sekadar dijual dalam bentuk bahan mentah.
Berdasarkan catatan sejarah, Kopi Liberika memiliki keterikatan kuat dengan wilayah Sepaku karena sudah dibudidayakan sejak era transmigrasi tahun 1981. Saat ini, luasan areal perkebunan kopi di kecamatan tersebut mencapai 424 hektare dengan angka produksi sekitar 5,1 ton per tahun. Sebagai upaya memperluas skala produksi, OIKN telah merencanakan penanaman massal sebanyak 1.010 pohon Kopi Liberika di area perkebunan setempat pada tahun 2025.
Dukungan penuh juga datang dari Bank Indonesia yang memandang pengembangan Kopi Liberika sebagai bagian dari pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperkuat ketahanan ekonomi lokal. Kepala Sekretariat Kerja Kantor Bersama BI, Syachman Perdymer, menyatakan bahwa sinergi ini bertujuan membangun ekosistem pertanian yang profesional dan berkelanjutan, selaras dengan visi pembangunan IKN yang inklusif.
Kehadiran program pendampingan ini disambut baik oleh para petani setempat yang selama ini hanya mengandalkan metode pengolahan turun-temurun. Bagio, salah seorang petani kopi di Sepaku, mengakui bahwa edukasi mengenai tahapan pascapanen membuka wawasan baru baginya dan rekan-rekan petani lainnya. Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai standar kualitas, para petani kini lebih optimistis dalam membidik harga jual yang lebih kompetitif demi memperbaiki taraf hidup mereka.
Editor : Indra Zakaria