REGGIO CALABRIA — Pada bulan Agustus 1972, sebuah penemuan tak terduga yang berawal dari kepanikan seorang penyelam amatir berhasil mengubah peta sejarah seni kuno dunia. Kala itu, Stefano Mariottini, seorang kimiawan asal Roma yang sedang berlibur di kawasan pantai Calabria, Italia, menyelam di kedalaman sekitar delapan meter di Laut Ionia. Berjarak sekitar 200 meter dari pesisir pantai Riace, mata Mariottini menangkap pemandangan yang menggidikkan: sebuah lengan manusia menyembul dari balik pasir dasar laut.
Mengira telah menemukan jasad korban tenggelam, Mariottini berenang ke permukaan dan segera menghubungi pihak kepolisian. Namun, saat kembali ke dasar laut untuk memeriksa lebih dekat, ia mendapati bahwa "tangan" tersebut bukanlah bagian dari jasad manusia, melainkan logam perunggu yang kokoh. Ketika pasir di sekitarnya disapu, perlahan terungkap sesosok wajah, disusul seluruh bagian tubuh patung berukuran raksasa. Tak jauh dari sana, patung kedua yang serupa turut ditemukan.
Dua sosok perunggu setinggi hampir dua meter tersebut adalah para prajurit yang terbaring di dasar laut selama lebih dari dua milenium: Prajurit Riace (Riace Bronzes).
Penyelamatan Dramatis dan Keajaiban Logam Kuno
Proses evakuasi dari dasar laut berlangsung emosional. Pada 21 Agustus 1972, tim penyelam kepolisian bersama badan pengawas kepurbakalaan mengangkat Patung B menggunakan balon udara khusus. Dua hari kemudian, Patung A berhasil diangkat ke permukaan, meski sempat terjatuh kembali ke dasar laut dalam prosesnya sebelum akhirnya berhasil diamankan ke tepi pantai.
Hasil penelitian awal mengonfirmasi bahwa kedua patung tersebut ditempa sekitar tahun 460 Sebelum Masehi. Penemuan dua patung asli buatan Yunani Kuno berusia 2.500 tahun ini dinilai sebagai keajaiban besar dalam dunia arkeologi.
Sepanjang sejarah, patung-patung perunggu era Yunani Kuno hampir semuanya musnah karena dilelehkan untuk dijadikan koin, senjata, atau lonceng. Karena alasan itulah, mayoritas peninggalan seni Yunani yang dikenal dunia saat ini merupakan salinan berbahan marmer ciptaan era Romawi. Prajurit Riace berhasil bertahan hingga ribuan tahun justru karena tersembunyi aman di dasar laut, jauh dari jangkauan tanur peleburan logam.
Anatomi kedua patung dibuat dengan detail yang luar biasa mengagumkan melalui teknik cera perduta (cetakan lilin hilang). Detail otot, vena, hingga pembuluh darah tampak riil. Bola mata patung terbuat dari batu kalsit dan kaca, giginya dilapisi perak, serta bagian bibirnya dibentuk dari tembaga. Patung A tampil gagah dengan janggut lebat dan ikat kepala kemenangan, sementara Patung B yang berkepala botak dirancang khusus untuk mengenakan helm perang yang kini telah hilang.
Teka-Teki Besar yang Belum Terjawab
Kendati telah berhasil diselamatkan dan menjalani proses restorasi intensif di Florence hingga tahun 1981, penemuan ini menyisakan sederet misteri besar yang belum terpecahkan hingga kini:
Siapa Pembuatnya? Nama-nama maestro besar Yunani kuno seperti Phidias (pencipta Patung Zeus di Olympia) hingga Polykleitos sempat dispekulasikan sebagai pemahatnya, namun tidak ada bukti sejarah yang pasti.
Siapa yang Diberi Penghormatan? Belum ada jawaban pasti apakah kedua patung mewakili tokoh prajurit nyata, atlet, dewa, atau para pahlawan mitologi Yunani.
Mengapa Berada di Dasar Laut? Teori paling kuat mengarah pada insiden kapal karam era Romawi yang sedang mengangkut karya seni rampasan atau beli dari Yunani, atau kapal yang terpaksa membuang muatannya saat dihantam badai hebat.
Apakah Ada Patung Ketiga? Rumor mengenai keberadaan patung ketiga masih terus berhembus. Mariottini dalam kesaksian awalnya sempat menyebutkan melihat sekelompok patung, bahkan ada versi lokal yang mengklaim penemuan awal sebenarnya diidentifikasi oleh empat remaja setempat.
Rumah Bagi Mahakarya Abadi
Kini, kedua prajurit perunggu tersebut berdiri megah di dalam ruangan beriklim khusus di atas fondasi marmer Carrara antisismik di Museo Nazionale della Magna Grecia, Reggio Calabria. Sungguh ironis memikirkan selama berabad-abad lamanya, para nelayan dan wisatawan berenang tepat di atas lokasi penemuan tanpa menyadari kehadiran dua dari mahakarya paling spektakuler dari zaman kuno yang terbaring bisu di balik pasir pantai.
Berkat ketidaksengajaan seorang penyelem di suatu hari di bulan Agustus, dunia hingga kini masih dapat menyaksikan secara langsung kemegahan seni perunggu Yunani kuno yang tak ternilai harganya. (*)
Editor : Indra ZakariaSumber : prokal.co