WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump resmi menyulut api perseteruan baru dengan Kremlin. Dalam langkah yang mengejutkan banyak pihak, Trump menyatakan dukungan penuhnya terhadap RUU bipartisan yang akan memberinya kekuatan absolut untuk menjatuhkan sanksi brutal: tarif hingga 500% bagi negara mana pun yang berani bertransaksi minyak dan gas dengan Rusia.
Langkah ekstrem ini terungkap setelah Senator Lindsey Graham membocorkan bahwa sang presiden telah merestui legislasi agresif tersebut. Dalam wawancara eksklusif dengan Sean Hannity di Fox News pada Jumat (9/1/2026) WIB, Trump menegaskan bahwa meski ia berharap tidak perlu menggunakan "senjata" ekonomi tersebut, ia siap mengambil tindakan tegas. Trump menyoroti kondisi ekonomi Rusia yang kian terpuruk namun tetap menjadi ancaman besar bagi Ukraina.
Dukungan Trump terhadap sanksi ini muncul sebagai puncak rasa frustrasinya setelah berbagai upaya menengahi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina menemui jalan buntu. Sebelumnya, peta jalan damai yang diusulkan Trump pada November lalu mentah di tangan Ukraina dan sekutu Barat karena dinilai terlalu memihak Moskow. Kini, kegagalan diplomasi tersebut tampaknya dibalas dengan tekanan ekonomi yang jauh lebih destruktif.
Ketegangan makin mencapai titik didih menyusul aksi nyata militer Amerika di lapangan. Setelah sebelumnya Departemen Keuangan AS melumpuhkan raksasa energi Rosneft dan Lukoil, awal pekan ini Penjaga Pantai AS secara berani menyita sebuah kapal tanker minyak berbendera Rusia di Atlantik Utara. Aksi "bajak laut modern" menurut versi Moskow ini memicu kemarahan besar dari pihak Rusia.
Moskow tidak tinggal diam dan langsung melontarkan serangan verbal. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menuding Washington sedang menggunakan taktik intimidasi untuk mempertahankan dominasi globalnya yang mulai pudar. Menurutnya, sanksi ini bukan soal membantu Ukraina, melainkan upaya licik AS untuk merampas hak kedaulatan politik negara lain dan menyingkirkan persaingan ekonomi secara paksa.
Dunia kini menanti apakah Trump benar-benar akan menarik pelatuk tarif 500% tersebut, sebuah langkah yang diprediksi tidak hanya akan mengisolasi Rusia, tetapi juga mengguncang stabilitas ekonomi negara-negara mitra dagangnya di seluruh dunia. (*)
Editor : Indra Zakaria