WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kehebohan global setelah mengklaim gelar baru sebagai Presiden Sementara Venezuela. Klaim kontroversial ini disampaikan Trump melalui unggahan di media sosial miliknya, Truth Social, yang menampilkan tangkapan layar menyerupai biografi Wikipedia yang mencantumkan namanya sebagai pemimpin sementara negara Amerika Selatan tersebut terhitung sejak Januari 2026.
Langkah ini diambil menyusul insiden dramatis penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, oleh pasukan Amerika Serikat pada 3 Januari lalu. Dalam narasinya, Trump menyatakan bahwa dirinya telah mengambil alih kendali penuh atas situasi di Venezuela sebagai bagian dari perluasan kepemimpinan Amerika Serikat di bawah pemerintahannya. Meski mengklaim posisi tersebut, Trump ditegaskan tetap mempertahankan jabatan resminya sebagai Presiden Amerika Serikat.
Situasi kepemimpinan di Venezuela sendiri saat ini secara de facto dipegang oleh Delcy Rodriguez, yang menjabat sebagai Presiden sementara pasca-hilangnya Maduro. Menanggapi klaim sepihak dari Washington, Rodriguez menyatakan sikap tegasnya dalam sebuah acara komunitas di Negara Bagian Miranda pada Sabtu, 10 Januari 2026. Ia menegaskan bahwa kedaulatan negara tetap berada di tangan rakyat Venezuela dan tidak ada kekosongan kekuasaan yang bisa diintervensi oleh pihak asing.
Rodriguez juga menekankan bahwa pemerintahan yang sah tetaplah pemerintahan di bawah naungan Presiden Nicolas Maduro. Ia berjanji kepada rakyatnya bahwa pemerintah tidak akan beristirahat sedikit pun hingga berhasil memulangkan Maduro dan Flores kembali ke tanah air. Menurutnya, tidak ada ketidakpastian dalam program pemerintahan meskipun situasi saat ini sedang dilanda krisis diplomatik yang sangat hebat dengan Gedung Putih.
Ketegangan antara Washington dan Caracas ini semakin memanas seiring dengan retorika keras yang terus dilancarkan oleh kubu Trump. Sebelumnya, sejumlah politisi senior AS, termasuk Senator Lindsey Graham, bahkan telah memberikan peringatan mengenai tindakan-tindakan militer agresif yang mungkin diambil oleh Trump terhadap pemimpin-pemimpin negara yang dianggap sebagai musuh Amerika.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Caracas, mengingat klaim ganda kepemimpinan ini berpotensi memicu konflik yang lebih luas di kawasan tersebut. Pihak otoritas Venezuela menyerukan dukungan dari negara-negara sekutu untuk menghadapi tekanan Amerika Serikat yang dinilai telah melanggar hukum internasional melalui aksi penangkapan paksa tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria