MOSKOW – Ketegangan di kawasan Arktik mencapai titik didih baru. Pemerintah Rusia secara resmi menyatakan akan memperkuat kemampuan pertahanan dan infrastruktur militer mereka di kutub utara sebagai respons langsung atas ambisi Amerika Serikat yang ingin menguasai Greenland.
Dalam konferensi pers di Moskow, Kamis (15/1/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam melihat manuver Washington yang dianggap mengancam kedaulatan nasional Rusia.
Zakharova secara terbuka menyatakan dukungan Moskow terhadap posisi China di kawasan tersebut. Ia menyebut upaya AS yang menggunakan aktivitas Rusia dan China di Arktik sebagai dalih untuk meningkatkan ketegangan adalah tindakan yang "tidak dapat diterima."
"Negara kami akan terus dengan tegas mempertahankan posisinya. Kami akan melanjutkan kebijakan memperkuat kedaulatan nasional di zona Arktik, terutama kemampuan pertahanan dan infrastruktur Jalur Laut Utara kami sendiri," tegas Zakharova di hadapan awak media.
Rusia menilai narasi "ancaman Rusia" yang ditiupkan AS hanyalah kedok bagi Washington untuk menetapkan Greenland sebagai wilayah kepentingan sepihak mereka.
Moskow menuding NATO telah mengubah wilayah Arktik yang sebelumnya tenang menjadi arena persaingan geopolitik yang berbahaya. Menurut Zakharova, aliansi pimpinan AS tersebut dengan sengaja menciptakan skenario "agresor fiktif" untuk membenarkan pengiriman kekuatan militer ke kawasan Arktik.
"Mereka sendiri yang pertama kali menciptakan gagasan tentang 'agresor', lalu mereka sendiri yang berlagak siap melindungi seseorang dari agresor tersebut," sindirnya.
Ia memperingatkan bahwa setiap upaya untuk mengabaikan kepentingan keamanan Rusia akan memicu balasan yang setimpal. "Upaya mengancam keamanan Rusia di Arktik akan memiliki konsekuensi yang sangat luas dan serius," tambah Zakharova.
Pernyataan keras Rusia ini muncul hanya sehari setelah Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan mengungkap alasan di balik syahwatnya menguasai Greenland. Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa kendali atas Greenland sangat krusial bagi sistem pertahanan udara dan rudal "Golden Dome" yang ia rencanakan.
Greenland, yang secara administratif merupakan wilayah otonom Denmark, selama ini memang menjadi lokasi strategis bagi militer AS berdasarkan perjanjian pertahanan tahun 1951. Namun, upaya Trump untuk melampaui perjanjian tersebut dengan penguasaan penuh telah memicu kecaman internasional.
Rusia mendesak agar setiap sengketa mengenai Greenland diselesaikan melalui negosiasi sesuai hukum internasional dan wajib mempertimbangkan hak-hak penduduk asli di pulau terbesar di dunia tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria