Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Goncangan di Libya: Seif al-Islam Kadhafi Tewas Dieksekusi Kelompok Bersenjata di Zintan

Redaksi Prokal • 2026-02-04 11:50:00
Seif al-Islam Kadhafi
Seif al-Islam Kadhafi

 

ZINTAN — Peta politik Libya kembali terguncang setelah kabar mengejutkan datang dari wilayah barat negara tersebut. Seif al-Islam Kadhafi, putra sekaligus sosok yang digadang-gadang sebagai pewaris politik mendiang Muammar Kadhafi, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan bersenjata di kediamannya di Zintan pada Selasa, 3 Februari 2026.

Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh pengacaranya di Prancis, Marcel Ceccaldi, yang menyatakan bahwa insiden maut tersebut terjadi sekitar pukul 14.00 waktu setempat saat empat pria bersenjata merangsek masuk ke dalam rumahnya.

Berdasarkan keterangan penasihat pribadinya, Abdullah Othman Abdurrahim, para penyerang melakukan aksi tersebut secara terencana dengan melumpuhkan sistem pengawasan terlebih dahulu sebelum mengeksekusi target. Seif al-Islam sebenarnya telah menyadari adanya ancaman keamanan yang meningkat dalam beberapa hari terakhir, namun ia dikabarkan sempat menolak tawaran pengamanan tambahan dari tokoh suku setempat. Selama bertahun-tahun, pria berusia 53 tahun ini memang dikenal hidup berpindah-pindah tempat demi menghindari risiko pembunuhan dan penangkapan, mengingat statusnya yang masih menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC).

Rekam jejak politik Seif al-Islam merupakan perpaduan antara harapan reformasi dan kontroversi kekuasaan. Sebelum revolusi 2011, ia dipandang sebagai wajah modern Libya yang menjanjikan pembaruan, namun posisinya berbalik ketika ia mendukung penumpasan keras terhadap demonstran selama gelombang Arab Spring. Meski sempat dijatuhi vonis mati oleh pengadilan di Tripoli pada 2015 dan kemudian mendapatkan amnesti, ia tetap menjadi simbol bagi loyalis rezim lama, bahkan sempat mengejutkan dunia dengan mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2021.

Kematian Seif al-Islam diyakini akan mengubah konstelasi politik Libya yang hingga kini masih terbelah antara pemerintahan di Tripoli dan faksi militer di wilayah timur. Para analis internasional menilai peristiwa ini akan menggeser persepsi publik terhadap warisan politik keluarga Kadhafi dan menciptakan kekosongan kepemimpinan bagi kelompok hijau atau para pendukung fanatik rezim lama. Hingga saat ini, otoritas resmi Libya belum mengeluarkan pernyataan formal terkait penyelidikan pembunuhan tersebut, sementara lingkaran dalam loyalis Kadhafi mulai menyuarakan kecaman keras atas insiden yang mereka sebut sebagai pembunuhan politik terencana. (*)

Editor : Indra Zakaria