RIYADH – Di tengah bayang-bayang ancaman militer Amerika Serikat terhadap Iran, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan muncul membawa misi perdamaian. Saat melakukan kunjungan resmi ke Arab Saudi pada Selasa (3/2), Erdogan secara terbuka menawarkan diri agar Turkiye bertindak sebagai mediator atau penengah guna meredakan ketegangan yang kian meruncing antara Washington dan Teheran.
Erdogan menegaskan bahwa Ankara menolak keras adanya potensi perang baru yang dapat menghancurkan stabilitas kawasan. Menurutnya, satu-satunya jalan keluar yang logis adalah melalui dialog dan penggunaan akal sehat, bukan melalui moncong senjata. "Kami sama sekali tidak menginginkan perang baru di kawasan ini. Turkiye siap memfasilitasi pembicaraan antara kedua belah pihak agar eskalasi konflik tidak meluas," ujar Erdogan sebagaimana dikutip dari harian Sabah.
Langkah diplomasi ini diambil Erdogan di tengah situasi lapangan yang kian panas, menyusul laporan Komando Pusat AS yang baru saja menembak jatuh sebuah drone Iran karena dianggap bertindak agresif terhadap kapal perang mereka. Situasi ini semakin genting mengingat Presiden AS, Donald Trump, telah mengerahkan "armada besar" menuju Iran dan melontarkan ancaman bahwa serangan di masa depan akan jauh lebih mematikan jika Teheran tetap menolak menandatangani kesepakatan penghapusan total senjata nuklir.
Sebagai upaya memperkuat "benteng" perdamaian, Erdogan menekankan pentingnya koordinasi intensif dengan kekuatan regional lainnya, seperti Arab Saudi dan Pakistan. Turkiye berharap aliansi negara-negara kawasan ini mampu menekan ego militeristik dan membawa AS serta Iran kembali ke meja perundingan. Bagi Erdogan, mencegah tumpahnya darah di Timur Tengah jauh lebih krusial daripada membiarkan diplomasi macet yang berujung pada kehancuran total. (*)
Editor : Indra Zakaria