Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Trump Desak Netanyahu Hentikan Serangan ke Fasilitas Migas Iran Guna Redam Eskalasi

Redaksi Prokal • Jumat, 20 Maret 2026 - 19:33 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (apnews.com)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. (apnews.com)

WASHINGTON D.C. – Di tengah eskalasi konflik yang kian membara di Timur Tengah, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengambil langkah mengejutkan. Ia secara terbuka memperingatkan sekutu terdekatnya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, untuk menghentikan seluruh serangan terhadap infrastruktur minyak dan gas (migas) di Iran.

Langkah ini diambil menyusul kekhawatiran global akan dampak ekonomi dan militer yang tak terkendali. "Ya, saya telah memperingatkannya (Netanyahu) agar tidak melakukan hal itu, dan ia tidak akan melakukannya," ujar Trump kepada awak media pada Kamis (19/3), sembari menegaskan bahwa hubungan diplomatik keduanya tetap berjalan harmonis meski terjadi perbedaan strategi di lapangan.

Peringatan Trump ini bukanlah tanpa alasan. Sehari sebelumnya, ketegangan memuncak saat laporan dari kantor berita Tasnim mengungkap adanya serangan udara ke fasilitas energi di South Pars—ladang gas terbesar di Iran—serta zona industri Asaluyeh. Serangan tersebut menghantam tangki penyimpanan dan fasilitas pengolahan, yang memicu kebakaran hebat serta kerusakan infrastruktur yang signifikan.

Meski muncul klaim keterlibatan bersama, Trump sempat menepis spekulasi tersebut dengan menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengetahui rencana Israel saat serangan itu terjadi pada Rabu (18/3).

Gelombang konflik ini sejatinya telah pecah sejak 28 Februari lalu, ketika operasi militer AS dan Israel di wilayah Iran menyebabkan banyak korban sipil dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Iran segera membalas dengan menghujani wilayah Israel dan target militer AS di Timur Tengah dengan proyektil.

Meskipun secara resmi diklaim sebagai tindakan pencegahan terhadap program nuklir, arah kebijakan kedua negara kini kian benderang menunjukkan keinginan adanya perubahan rezim di Teheran. Namun, strategi "bumi hangus" terhadap sektor migas Iran kini menjadi buah simalakama. Dana Moneter Internasional (IMF) bahkan telah membunyikan alarm keras: serangan berkelanjutan terhadap sektor energi Iran berisiko melambungkan harga minyak dunia dan mendorong inflasi global ke level yang membahayakan.

Kini, keputusan ada di tangan Netanyahu. Jika peringatan Trump dipatuhi, kawasan Timur Tengah mungkin akan mendapatkan sedikit ruang napas dari ancaman krisis energi global. (*)

Editor : Indra Zakaria