TOKYO – Di tengah melumpuhnya jalur energi dunia akibat konflik terbuka, Teheran mengirimkan sinyal diplomasi yang kuat. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi jalur aman bagi kapal-kapal Jepang yang melintasi Selat Hormuz, meski ketegangan militer dengan Amerika Serikat dan Israel belum mereda.
Dalam sebuah wawancara telepon eksklusif dengan Kyodo News pada Jumat (20/3/2026), Araghchi menegaskan bahwa pembatasan yang terjadi saat ini bersifat selektif, bukan penutupan total.
Araghchi meluruskan persepsi global mengenai blokade di jalur air paling strategis dunia tersebut. Ia menyebut bahwa pembatasan hanya menyasar negara-negara yang terlibat langsung dalam serangan terhadap kedaulatan Iran pada akhir Februari lalu.
"Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu terbuka," tegas Araghchi. Ia menambahkan bahwa Iran siap menjamin keamanan navigasi bagi negara sahabat seperti Jepang, asalkan ada koordinasi teknis dengan Teheran. "Kami siap untuk memastikan jalur aman bagi negara-negara seperti Jepang jika mereka berkoordinasi dengan kami."
Isu krusial ini dilaporkan telah dibahas secara intensif melalui sambungan telepon dengan Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi. Sebagai negara yang menggantungkan 90 persen kebutuhan minyak mentahnya dari Timur Tengah, jaminan keamanan ini menjadi angin segar bagi stabilitas energi Negeri Matahari Terbit.
Menolak Gencatan Senjata "Setengah Hati"
Meski menawarkan kerja sama navigasi, Araghchi menegaskan posisi keras Iran terkait konflik militer yang sedang berlangsung. Teheran menolak opsi gencatan senjata sementara dan menuntut penyelesaian yang bersifat permanen.
"Kami tidak menginginkan gencatan senjata, melainkan pengakhiran perang yang lengkap, komprehensif, dan langgeng," ujarnya lugas.
Iran bersikeras bahwa setiap resolusi damai harus mencakup jaminan bahwa serangan serupa tidak akan terulang di masa depan, serta adanya kompensasi atas kerusakan infrastruktur yang ditimbulkan oleh agresi AS dan Israel. Araghchi menyebut perang ini sebagai sesuatu yang "dipaksakan" saat Iran sebenarnya sedang berupaya melakukan negosiasi.
Di Tokyo, pernyataan Araghchi ditanggapi dengan sikap waspada namun terbuka. Seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Jepang menyatakan bahwa pihaknya akan mencermati komitmen Teheran tersebut.
"Bernegosiasi langsung dengan pihak Iran adalah cara paling efektif untuk mencabut hambatan di selat tersebut," ujar seorang pejabat pemerintah Jepang, sembari menekankan pentingnya menjaga keseimbangan agar tidak memprovokasi sekutu utama mereka, Amerika Serikat. Meski kapal-kapal dari India, Pakistan, dan Turki dilaporkan sudah mulai melintasi selat, Tokyo menyadari bahwa selama konflik fisik belum berakhir sepenuhnya, risiko lonjakan harga energi global akan tetap menghantui pasar internasional. (*)
Editor : Indra Zakaria