Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Agresi AS-Israel Hantam 80 Ribu Lokasi Sipil: Bulan Sabit Merah Ungkap Pelanggaran Kemanusiaan Skala Besar

Redaksi Prokal • Senin, 23 Maret 2026 - 02:34 WIB

Kehancuran akibat serangan Israel dan Amerika di Iran.
Kehancuran akibat serangan Israel dan Amerika di Iran.

TEHERAN- Presiden Perhimpunan Bulan Sabit Merah Iran (IRCS), Pirhossein Kolivand, membeberkan fakta mengejutkan terkait dampak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang telah menyasar lebih dari 80.000 lokasi sipil di Iran. Dalam pidatonya di hadapan media asing di Teheran, Sabtu (21/3), Kolivand menyoroti penghancuran sistematis yang melanggar hukum humaniter internasional.

"Lebih dari 20.000 unit yang diserang berlokasi di Teheran, sementara 60.000 lainnya tersebar di berbagai wilayah di seluruh negeri," ungkapnya saat merinci sebaran kehancuran akibat agresi tersebut.

Kekejaman serangan ini merambah hingga ke fasilitas vital yang seharusnya terlindungi dalam hukum perang. Kolivand mencatat sedikitnya 266 pusat kesehatan dan 498 sekolah telah menjadi sasaran rudal dan bom pihak lawan. Sektor ekonomi juga lumpuh dengan hampir 18.790 unit komersial yang hancur. "Serangan-serangan ini telah menewaskan 12 anggota tenaga kesehatan kami dan melukai lebih dari 90 lainnya," tambah Kolivand, menekankan bahwa petugas medis yang berada di garis depan pun tidak luput dari maut.

Tragedi kemanusiaan ini menelan korban jiwa yang terus bertambah, termasuk warga sipil yang paling rentan. Berdasarkan data IRCS, ratusan orang telah tewas, di antaranya mencakup anak-anak dan sedikitnya 231 perempuan sejak perang pecah. Namun, sejumlah laporan media internasional menyebutkan angka yang jauh lebih mengerikan, yakni lebih dari 1.500 orang tewas di seluruh Iran. Konflik skala besar ini sendiri dipicu oleh serangan mendadak Israel dan AS pada 28 Februari lalu yang menewaskan mantan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang kemudian dibalas Teheran dengan hujan rudal ke pangkalan-pangkalan AS di Timur Tengah.

Hingga saat ini, situasi di Iran masih dibayangi ketidakpastian seiring dengan terus berlangsungnya kontak senjata dan gempuran udara. Kolivand menegaskan bahwa dunia internasional tidak boleh tutup mata terhadap penghancuran infrastruktur sipil yang masif ini. "Ini adalah pelanggaran nyata terhadap prinsip-prinsip kemanusiaan," pungkasnya. Tekanan diplomatik kini diharapkan mampu meredam eskalasi sebelum jumlah korban jiwa dan kerusakan fasilitas publik semakin tidak terkendali di jantung wilayah Persia tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria